Jumat, 02 Mei 2008

Beasiswa Monbukagakusho 2009

Kedutaan Besar Jepang membuka penawaran beasiswa kepada mahasiswa/
mahasiswi Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di universitas di
Jepang sebagai research student pada tahun 2009 dalam Program Beasiswa
Pemerintah Jepang (Monbukagakusho).

Peminat pada waktu menjalani research student diperbolehkan melamar ke
program degree (master/doctor/professional graduate course) atau
meneruskan program doctor degree setelah menyelesaikan program master
degree atau professional graduate course, apabila lulus seleksi tes
ujian yang diberikan oleh universitas yang bersangkutan

Persyaratan untuk melamar, sbb



(1) Pelamar lahir pada dan setelah tanggal 2 April 1974
(2) IPK minimum 3,0 atau nilai EJU (Examination for Japanese
University Admission for International Students) minimum 260 dalam
jumlah 2 mata ujian tidak termasuk Bahasa Jepang
(3) Nilai TOEFL minimum 550 atau ekuivalen atau lulus Tes Kemampuan
Bahasa Jepang Tingkat 2
Formulir pendaftaran dapat diambil secara gratis di Kedutaan Besar
Jepang (Bagian Pendidikan, pukul 08:30-12:00, 14:00-15:30), Konsulat
Jenderal Jepang di Surabaya, Medan, dan Makassar. Formulir pendaftaran
juga dapat diperoleh pada website Kedutaan Besar Jepang (http://www.id.emb-japan.go.jp
). Dokumen lamaran harus dikembalikan kepada Kedutaan Besar Jepang
sebelum tanggal 23 Mei 2008, dapat diserahkan secara langsung atau
dikirim melalui pos.

Keterangan lebih lanjut mengenai program beasiswa ini dapat diperoleh
di Kedutaan Besar Jepang (Bagian Pendidikan: Tel: 021-3192.4308 psw:
175, 176).



[+/-] Selengkapnya...

Senin, 03 Maret 2008

RASA SAKIT KETIKA SAKARATUL MAUT MENJEMPUT

Assalamu'alaikum...
Sahabatku,..
Jadikanlah cerita di bawah ini sebagai renungan....
RASA SAKIT KETIKA SAKARATUL MAUT MENJEMPUT

"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir, seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata: 'Rasakanlah olehm u siksa neraka yang membakar.' (Niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).



Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): 'Keluarkanlah nyawamu!'

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengata kan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al-An'am : 93).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.

"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).


Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.

Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,

"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.

Seperti tamu yang lain, Nab i Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail.

Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan. "Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).

"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.

"Kenapa?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s.

Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".

Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan pikir Nabi Idris a.s.

"Siapakah engkau sebenarnya?" tanya Nabi Idris a.s.

"Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.< /FONT>

Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?" selidik Nabi Idris a.s serius.

"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.

"Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.

"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s

"Apa itu? Katakanlah!". Jawab Malaikat Izrail.

"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.

"Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya" , tolak Malaikat Izrail. Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s.

Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.

Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.

"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?" Tanya Malaikat Izrail.

"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.

"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.

MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita? Siapkah kita untuk menghadapinya?

"Sebarkanlah walau hanya satu ayat"


[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 15 Januari 2008

Sikap Salafus Shalih dalam Mengelola Perbedaan Pendapat, Keragaman dan Madzhab-madzhab (Bag I)

(Mawaqiif Salafus-Shalih fii Al-Ikhtilaf wa At-Tanawwu’ Wa Al-Madzahib (Bag I))

AlhamduliLLAAHi wash Shalatu was Salaamu ‘ala RasuliLLAAHi wa ‘ala ‘alihi wa ash-habihi waman walah.

Ikhwah wa akhwat fiddin hafizhakumuLLAAH, seringkali ketika mengisi taujih dan menjelaskan berbagai dalil yang berbeda di kalangan salaf, ada saja ada orang yang bertanya kepada ana: “Ustadz, di antara pendapat-pendapat yang
dikemukakan tadi yang paling shahih yang mana?” Atau: “Ana tidak perlu tahu tentang berbagai pendapat tersebut, ana cuma ingin tahu satu yang benar yaitu yang sesuai dengan Salaf.”


Ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’anakumuLLAAH, dari berbagai pengalaman tersebut nampaklah bagi para pencari ilmu, bahwa sebagian besar masyarakat kita belum mengetahui atau bahkan terlanjur dicekoki pemahaman yang keliru, bahwa seolah-seolah kalau sudah pendapat Salaf maka itu hanya satu, atau kalau kembali pada pendapat Salaf maka tidak boleh ada perbedaan pendapat.

Pemahaman seperti sama sekali amat keliru dan amat berbahaya, sehingga sebagian kelompok kemudian memanfaatkan jargon “kembali kepada Salaf” menjadi “kembali ke kelompok kami”, atau “kembali kepada fatwa Syaikh Fulan dan Syaikh Fulan, kalau selain itu bukan mewakili Salaf”. Hal ini tentu saja jauh sekali dari kembali kepada manhaj As-Salafus Shalih yang Syamil, Kamil dan Mutakamil.

Mengapa demikian? Karena jika kita jujur kembali kepada pemahaman Salaf, maka kita akan dapati seabreg ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan mereka, kitapun akan dapatkan setumpuk dalil-dalil dimana sebagian menguatkan
sebuah dalil dan sebagian lagi menguatkan dalil yang lainnya. Sehingga hendaklah kita bersikap adil, apakah kita memang mengajak kembali kepada Salaf, atau kembali kepada Salaf “yang sesuai dengan tarjih kita” karena kedua hal tersebut tentu saja maknanya dan implikasinya amat berbeda kepada Shahwah Islamiyyah (kebangkitan Islam) saat ini.

Ikhwah wa akhwat ‘azzakumuLLAAH. Jika kita benar ingin merujuk kepada Salaf, maka pelajarilah dan telitilah berbagai fatwa mereka, yang kesemuanya menyatakan bahwa ikhtilaf sebagiannya adalah terlarang namun sebagian yang lainnya bahkan merupakan sebuah kemestian (hatmiyyah). Hal tersebut karena perbedaan pendapat adalah sunnatuLLAAH, sebagaimana firman ALLAAH SWT:

“Jikalau RABB-mu menghendaki, tentu DIA menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh RABB-mu (yaitu para rasul as), dan untuk (perbedaan pendapat) itulah ALLAAH menciptakan mereka, kalimat RABB-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya AKU akan memenuhi neraka Jahannam itu dengan Jin dan Manusia (yang durhaka) semuanya.”[1]

Sebagian orang yang tidak mengerti menganggap bahwa makna: “Kecuali orang-orang yang diberi rahmat” dalam ayat itu adalah dalil wajibnya kita keluar dari berbeda pendapat, pemahaman ini adalah keliru, karena makna yang benar bahwa yang dikecualikan tersebut hanyalah para Nabi dan Rasul AS, adapun selain mereka pastilah senantiasa berbeda pendapat, demikianlah menurut tafsir ulama Salafus Shalih;

Berkata Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya: “Perbedaan dan kemajemukan dalam syariat merupakan keadaan yang tidak bisa tidak dalam penciptaan makhluk, sehingga makna: Dan untuk itulah ALLAH menciptakan mereka, maka ikhtilaf merupakan ‘illat (alasan) keberadaan wujud makhluk ini.”[2]

Kemajemukan dan perbedaan pendapat tersebut adalah motivator untuk menghadapi ujian serta untuk berkompetisi dan berkarya di antara masing-masing pihak yang berbeda pendapat tersebut, karena jika hanya satu ummat saja maka tidak akan ada lagi motivasi untuk berlomba, yang merupakan tujuan dari penciptaan manusia. Hal ini sesuai dengan firman ALLAH SWT yang lainnya: “Untuk tiap-tiap ummat di antara kalian KAMI berikan aturan dan jalan yang terang, sekiranya ALLAH menghendaki niscaya kalian dijadikan-NYA satu ummat saja, tetapi ALLAH hendak menguji kalian terhadap pemberian-NYA kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…”[3]

Bahkan di kalangan non muslimpun ALLAH SWT tidak menyamaratakan mereka, sebagai semua mereka adalah jahat dan semua memusuhi kaum muslimin semua, bahkan sebaliknya ALLAH SWT Sang Maha Adil menyatakan dengan keadilan-NYA bahwa di antara mereka (non muslim) terjadi juga perbedaan dan ada di antara mereka yang masih memiliki nilai-nilai kebaikan, sebagaimana firman-NYA: “Mereka itu tidak sama, di antara ahli-kitab-kitab itu ada golongan yang berlaku lurus…”[4], dalam firman-NYA yang lain: “…dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kalian lihat mata-mata mereka mencucurkan airmata disebabkan kebenaran al-Qur’an…”[5]

Mengapa Bisa Terjadi Perbedaan Dalam Penetapan Hukum?

Jika kita mempelajari fiqh maka kita akan dapatkan bahwa tentang kehujjahan dalil syar’iyyah itu sendiri ada 2 jenis:

1. DALIL YANG DISEPAKATI KEHUJJAHANNYA: Al-Qur’an, as-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas, yang didasarkan dari QS an-Nisa’, 4/59. Dalam ayat tersebut taat pada ALLAH bermakna taat pada Al-Qur’an dan taat pada Ar-Rasul diartikan taat pada As-Sunnah, dan taat pada ‘Ulil-Amri (bersifat muqayyad/terbatas) adalah taat pada pemerintah atau ulama atau pada kesepakatan mereka (ijma’). Hal ini diperkuat dengan dalil hadits tentang af’al Abubakar RA, dimana jika ia tidak mendapat hukum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah maka beliau mengumpulkan tokoh-tokoh sahabat untuk bermusyawarah[6]. Sementara Qiyas ditetapkan berdasarkan hadits Mu’adz ra ketika diutus ke Yaman[7].

2. DALIL YANG DIPERSELISIHKAN KEHUJJHANNYA: Istihsan (mengembalikan yang khusus ke yang umum), mashalih-mursalah (menetapkan hukum demi kemaslahatan), istishab (memilih yang lebih disukai), ‘urf (adat-istiadat), madzhab-shahabiy (ittiba’ pada sebagian sahabat ra), syar’un man qablana (syariat ALLAH SWT sebelum nabi Muhammad SAW)[8].

Ikhtilaf Dalam Hal yang Qath’iy dan Zhanniy

Langkah pertama mensikapi ikhtilaf adalah membedakan apakah masalah tersebut bersifat ushuliyyah atau furu’iyyah? Apakah muhkamat atau mutasyabihat? Apakah masalah diniyyah atau dunyawiyyah? Jika masalah yang diperselisihkan merupakan masalah ushuliyyah seperti wajibnya rukun iman, atau masalah furu’iyyah yang qath’iy (pasti) seperti wajibnya shalat, zakat, puasa, hajji, jihad, atau haramnya zina, liwath, mencuri, khamr, riba maka berbeda pendapat dalam hal yang sudah jelas dan qath’iy ini mutlak diharamkan.

ALLAAH SWT mencela berbeda pendapat dalam masalah seperti ini dalam firman-NYA: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka, mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” [9] Nabi SAW bersabda: “Sungguh kehancuran suatu bangsa sebelum kalian disebabkan perbedaan mreka terhadap KitabuLLAAH.”[10] Ibnu Mas’ud berkata: “Berbeda pendapat itu buruk.”[11] Berkata Asy-Syafi’i: “Perbedaan pendapat yang diharamkan adalah yang berkaitan pada masalah yang ada dalilnya secara sharih (jelas) dalam KitabuLLAAH dan Sunnah rasuluLLAAH SAW.”[12]

Maka sikap kita dalam masalah ini adalah harus jelas dan tegas (kecuali dalam hal-hal yang dikhawatirkan akan mengakibatkan bahaya yang lebih besar), dan sikap tegas dalam hal ini dihitung sebagai jihad fisabiliLLAAH[13], dan tugas para nabilah menjelaskan kata akhir dan keputusan mana yang benar dan mana yang salah dalam perbedaan pendapat seperti ini, sebagaimana dalam firman-NYA: “Dan KAMI tidak menurunkan kitab-kitab ini kepadamu kecuali agar kamu menjelaskan kepada mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu, juga agar menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”[14]

Adapun perbedaan pendapat dalam masalah yang zhanniy (masih bersifat dugaan kuat, tidak pasti) maka sepanjang perbedaan tersebut tidak syadz (nyleneh) dan memiliki dalil yang kuat maka yang demikian dibenarkan sekalipun dalam masalah aqidah[15], apalagi dalam masalah mu’amalah karena tidak ada dalil yang qath’iy[16].

Berkenaan dengan yang perbedaan furu’iyyah ini, berkata Imam Asy-Syafi’i: “Perbedaan pendapat ada 2 macam: Ada yang diharamkan dan ada yang tidak, yang diharamkan adalah segala hal telah ALLAH SWT berikan hujjah-NYA baik dalam kitab-kitab-NYA atau melalui lisan nabi-NYA secara jelas dan tegas maka hal ini tidak boleh berbeda pendapat bagi yang mengetahuinya. Maka ALLAH melarang perbedaan pendapat pada masalah yang telah dijelaskan secara tegas dalam nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah.”[17]

Imam asy Syatibi menjelaskan lebih rinci, sbb: “Perpecahan yang dilarang adalah perpecahan dalam agama (QS 6/159) dan (QS 3/7) dan bukan perbedaan dalam hukum agama. Perbedaan yang kedua ini kita dapatkan para sahabat ra setelah wafatnya nabi SAW berbeda pendapat dalam berbagai hukum agama. Pendapat mereka berbeda-beda tetapi mereka menjadi terpuji karena mereka telah berijtihad dalam masalah yang memang diperintahkan untuk itu. Bersamaan dengan itu mereka adalah orang-orang yang saling mencintai satu sama lain serta saling menasihati dalam persaudaraan Islam.”[18]

Imam al-Qurthubi menambahkan: “Karena berbeda-bedalah maka ALLAH SWT menciptakan mereka manusia.”[19] Lebih jauh Imam Ghazali menambahkan: “Bagaimana mungkin ummat akan bersatu mendengarkan satu pendapat saja, padahal mereka telah ditetapkan sejak di alam azali bahwa mereka akan terus berbeda pendapat kecuali orang-orang yang dirahmati ALLAH (para Rasul as), dan karena hikmah perbedaan itulah mereka diciptakan.”[20]

Imam Abu Hayyan at-Tauhidi menyatakan: “Tidak mungkin manusia berbeda pada bentuk lahir mereka lalu tidak berbeda dalam hal batin mereka, dan tidak sesuai pula dengan hikmah penciptaan mereka, jika sesuatu yang terus menerus membanyak sementara tidak berbeda-berbeda.”[21] Imam Syihabuddin al-Qarafi mengatakan: “Telah ditetapkan dalam ushul-fiqh bahwa hukum-hukum syariat seluruhnya dapat diketahui disebabkan oleh adanya ijma’ bahwa seluruh mujtahid, jika zhan (kecendrungan terkuat menurutnya) mencapai suatu hukum tertentu maka itulah hukum ALLAH SWT bagi dirinya dan bagi para pengikutnya.”[22]

Perbedaan pendapat ini dinamakan sebagai perbedaan pendapat yang disyari’atkan (al-ikhtilaf al-masyru’), tafadhal para pencari ilmu membuka dan merujuk langsung pada kitab-kitab yang ana sebutkan, di antaranya sbb:

1. Al-Ikhtilaf Al-Ulama’, yang disusun oleh Imam Abi AbduLLAAH, Muhammad bin Nashr Al-Mirwazi (wafat th. 294-H).

2. Al-Ikhtilaf Al-Fuqaha’, karangan Imam Abi Ja’far, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib Al-Amaliy, digelari Imam At-Thabari (wafat th. 310-H).

3. Al-Awsath fi As-Sunan wa Al-Ijma’ wa Al-Ikhtilaf, karya Imam Muhammad bin Ibrahim bin Mundzir An-Naisaburiy, digelari Ibnul Mundzir (wafat th. 318-H)

4. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Abil Walid, Imam Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd Al-Andalusiy, digelari Ibnu Rusyd (wafat th. 595-H).

5. Al-Mughniy Fi Fiqhil Imam Ahmad Ibni Hanbal Asy-Syaibaniy, oleh Abil Faraj, Imam AbdiRRAHMAN bin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisiy Al-Hanbaliy, digelari Syamsuddin (wafat th. 682-H).

6. I’lam Al-Muwaqqi’in an RABBil ‘Alamin, Imam Muhammad bin Abubakr bin Ayyub bin Sa’d bin Qayyim, digelari Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (wafat 751-H).

7. Irsyadul Fuhul ila tahqiq Al-Haqq min ‘Ilmil Ushul, Imam Abi ‘Ali, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin AbduLLAAH Asy-Syaukani Ash-Shan’ani, digelari Imam Asy-Syaukaniy (wafat th. 1255-H).

8. Dll.

(Bersambung Insya ALLAAH…)

___
Catatan Kaki:

[1] QS Hud, 11/118-119

[2] Lih. Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Darul Kutub al-Mishriyyah, juz-IX, hal 114-115)

[3] QS Al-Maidah, 5/48

[4] QS Ali Imran, 3/113-115

[5] QS Al-Maidah, 5/82-83

[6] HR Al-Baihaqi, dalam Al-Kubra’, X/114 juga dalam Sunan-nya, II/425 no.20838; Jam’ul Ahadits Lis-Suyuthi, XXV/146;

[7] HR Bukhari, VI/12 no. 1496; Muslim, I/151 no. 131

[8] Abdul Wahhab Khalaf, Ilmu Ushulul Fiqh

[9] QS Ali Imran, 3/105

[10] HR Muslim, Kitabul ‘Ilmi, no.2

[11] Adh-Dha’ifah Lil Albani, IV/75

[12] Ar-Risalah Lisy Syafi’i, hal. 560

[13] Ar-Raddu ‘alal Mukhalif, hal.39

[14] QS An-Nahl, 16/64

[15] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebut masalah ini sebagai masalah2 ilmiyyah atau khabariyyah, lih. Majmu’ Al-Fatawa, XIX/204

[16] Bahrul Muhith, VI/240 dan Al-Ihkam, IV/162 [17] Ar-Risalah lisy Syafi’i, hal-560, Maktabah Ilmiyyah, Kairo, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir

[18] Al-Muwafaqaat lisy-Syatibi, juz-4, hal-121, 1

[19] Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, juz 9, hal 114-115

[20] Al-Qisthas al-Mustaqim, hal.61. Bagian dari kumpulan kitab-kitab Al-Qushur Al-Alawi min Rasa’il Al-Imam al-Ghazali, Maktabah Al-Jundi, Kairo

[21] Al-Imtina’ wa Al-Mu’assanah, juz 3, hal 99, Kairo (tahqiq Ahmad Amin dan Ahmad az-Zain)

[22] Al-Umniyyah fi Idrak Anniyyah, hal 515, dalam kumpulan kitab-kitab Al-Qarafi wa Atsaruhu fi al-Fiqh al-Islami (tahqiq AbduLLAH Ibrahim Shalah)

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 16 November 2007

kisah haru gadis kecil palestina

Sebuah kisah nyata yang membuat gerimis dan mata berkaca-kaca. Pilu
hati, menyadari bahwa masih banyak saudara kita yang hidup dengan
penuh perjuangan. Apa yang bisa kita perbuat? Sekedar berempati saja
tidak cukup. Ah, malu sekali diri ini :(((
------------

Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di
Palestina. Hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di
antara keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam
pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula.

Dan benar, dibentuklah tim khusus untuk melakukan pemeriksaan dan
mulai bekerja. Sudah barang tentu, pemeriksaan dilakukan terhadap
segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti hand
phone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat cinta serta
yang lainnya.

Keamanan saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang.
Para siswi menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim
pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula dengan penuh percaya
diri. Keluar dari satu ruangan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-
tas para siswi di depan mereka. Semua tas kosong kecuali berisi buku-
buku, pena dan peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya
pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu ruangan. Di
situlah bermula kejadian. Apakah sebenarnya yang terjadi ???

Tim pemeriksa masuk ke ruangan ini dengan penuh percaya seperti
biasanya. Tim meminta izin kepada para siswi untuk memeriksa tas-tas
mereka. Dimulailah pemeriksaan.

Saat itu di ujung ruangan ada seorang siswi yang tengah duduk. Dia
memandang kepada tim pemeriksa dengan pandangan terpecah dan mata
nanar, sedang tangannya memegang erat tasnya. Pandangannya semakin
tajam setiap giliran pemeriksaan semakin dekat pada dirinya. Tahukah
anda, apakah yang dia sembunyikan di dalam tasnya ???

Beberapa saat kemudian tim pemeriksa memeriksa siswi yang ada di
depannya. Dia pun memegang sangat erat tasnya. Seakan dia mengatakan,
demi Allah mereka tidak akan membuka tas saya. Dan tiba lah giliran
pemeriksaan pada dirinya. Dimulailah pemeriksaan.

Tolong buka tasnya anakku, kata seorang guru anggota tim pemeriksa.
Siswi itu tidak langsung membuka tasnya. Dia melihat wanita yang ada
di depannya dalam diam sambil mendekap tas ke dadanya. Barikan tasmu,
wahai anakku, kata pemeriksa itu dengan lembut. Namun tiba-tiba dia
berteriak keras: tidak … tidak … tidak …

Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya dan merekapun berkumpul
di sekitar siswi tersebut. Terjadilah debat sengit: berikan … tidak …
berikan … tidak …

Adakah rahasia yang dia sembunyikan??? Dan apa yang sebenarnya
terjadi???

Maka terjadilah adegan pertarungan tangan untuk memperebutkan tas
yang masih tetap berada dalam blockade pemiliknya. Para siswi pun
terhenyak dan semua mata terbelalak. Seorang dosen wanita berdiri dan
tangannya diletakan di mulutnya. Ruangan tiba-tiba sunyi. Semua
terdiam. Ya Ilahi, apakah sebenarnya yang ada di dalam tas tersebut.
Apakah benar bahwa si Fulanah (siswi) tersebut ….

Setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim pemeriksa sepakat untuk
membawa sang siswi dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan pemeriksaan
yang barang kali membutuhkan waktu lama …

Siswi tadi masuk kantor sedang air matanya bercucuran bagai hujan.
Matanya memandang ke arah semua yang hadir di ruangan itu dengan
tatapan penuh benci dan marah. Karena mereka akan mengungkap rahasia
dirinya di hadapan orang banyak. Ketua tim pemeriksa memerintahkannya
duduk dan menenangkan situasi. Dia pun mulai tenang. Dan kepala
sekolah pun bertanya, apa yang kau sembunyikan di dalam tas wahai
anakku …?

Di sini, dalam saat-saat yang pahit dan sulit, dia membuka tasnya. Ya
Ilahi, apakah gerangan yang ada di dalamnya??? Bukan. Bukan. Tidak
ada sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya. Tidak ada benda-
benda haram, hand phone berkamera, gambar dan foto-foto atau surat
cinta. Demi Allah, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali sisa makanan
(roti). Ya, itulah yang ada di dalam tasnya.

Setelah ditanya tentang sisa makanan yang ada di dalam tasnya, dia
menjawab, setelah menarik nafas panjang.

"Ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi, yang masih tersisa
separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya
kumpulkan dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulung untuk
keluarga saya di rumah …Ya, untuk ibu dan saudara-saudara saya di
rumah. Agar mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk makan
siang dan makan malam. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki
siapa-siapa. Kami bukan siapa-siapa dan memang tidak ada yang
bertanya tentang kami. Alasan saya untuk tidak membuka tas, agar saya
tidak malu di hadapan teman-teman di ruangan tadi."

Tiba-tiba suara tangis meledak ruangan tersebu. Mata semua yang hadir
bercucuran air mata sebagai tanda penyesalan atas perlakukan buruk
pada siswi tersebut.

Ini adalah satu dari sekian banyak peristiwa kemanusiaan yang
memilukan di Palestina. Dan sangat mungkin juga terjadi di sekitar
kehidupan kita. Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak
peduli dengan mereka. Doa dan uluran tangan kita, setidaknya bisa
sedikit meringankan penderitaan mereka. Khususnya saudara-saudara
kita di Palestina yang hingga kini terus dilanda tragedi kemanusiaan
akibat penjajahan Zionis Israel.

[+/-] Selengkapnya...

Senin, 29 Oktober 2007

TIP MENCARI BEASISWA UNTUK PEMULA

A. LANGKAH-LANGKAH TEKNIS:

1. Ada banyak sekali scheme scholarship untuk study abroad yang buka
pendaftaran tiap tahun. Beberapa scheme populer yang memberikan full
scholarship (komponen yang dibiayai sudah mencakup tuition fee, uang
saku, asuransi kesehatan dan 1x ticket bolak-balik) antara lain

Chevening dari British Council (tujuan studi ke UK)
Fulbright dari USAID (tujuan studi ke US)
ADS dari AusAid (tujuan studi ke Australia)
STUNED dan NFP dari Netherland Education Centre (tujuan studi ke Belanda)
DAAD dari pem. Jerman (tujuan studi ke Jerman)
VLIR dari pem. Belgia (tujuan studi ke Belgia)
Kita harus mempelajari dulu scheme2 tersebut, apa saja persyaratannya,
dsb. Cara paling mudah dan efektif ya tinggal buka saja web-nya. Nggak
tau alamatnya? Search aja di google....

2. Dapatkan score TOEFL minimal 550 (kalau mau aman 580) atau IELTS
minimal 6.0 (kalu bisa dapat 6.5 lebih OK). Setahu saya semua full
scholarship diatas mempersyaratkan nilai TOEFL/IELTS dengan nilai
minimal spt diatas (fulbright malah 580), kecuali Chevening cuma
require pengisian 2 lembar form aplikasi (that's all!).

3. Siapkan dokumen2 standar yang diperlukan such as: transkrip &
ijazah S1 (dilegalisir dan di-translate, jasa translation-nya biasanya
tersedia di kampus masing2), surat referensi dari employer dan mantan
dosen pembimbing S1, sertifikat skor TOEFL/IELTS, dan Curriculum
Vitae. Ada juga scheme yang require paspor, akte kelahiran, surat
jaminan dari employer, surat penerimaan dari universitas yang akan
dituju, dsb.

4. Langganan milis [EMAIL PROTECTED] Di milis ini ada banyak
sekali info2 mengenai beasiswa dari berbagai negara, lengkap dengan
tips, trik, pengalaman sucessful awardees and much more other related
topics.

B. TIPS2 UNTUK MEMPERBESAR PELUANG

1. Supaya peluang diterima lebih besar, carilah scheme scholarship
yang paling sesuai dengan background kita. Misalnya, kalau Anda
seorang jurnalis/wartawan/reporter, maka peluang Anda cukup besar
kalau Anda apply Chevening (Ira Koesno dan Arief Suditomo adalah salah
dua dari alumni Chevening). Kalau Anda calon politisi, pintu Fulbright
terbuka lebar untuk Anda (contoh alumni fulbright: Amien Rais dan
Mallarangeng bersaudara).

2. Perlu diantisipasi juga bahwa peluang setiap orang untuk memperoleh
beasiswa tidaklah sama. Hampir semua sponsor full scholarship akan
memberikan prioritas utama kepada PNS, dosen, staf LSM lokal, orang2
dari Kawasan Timur Indonesia (or at least luar Jawa lahh....),
wartawan dan... wanita (gender equity, banyak sponsor yang men-set
proporsi penerima / pemenang beasiswa mereka harus imbang pria dan
wanita = 50% vs 50%, sementara biasanya jumlah pelamar pria jauh lebih
banyak dari jumlah pelamar wanita, otomatis wanita punya peluang lebih
besar).

Jadi misalnya, peluang seorang dosen wanita dari Universitas
Cendrawasih adalah sangat2 besar untuk dapat beasiswa (terutama
AusAid), walaupun die kagak pinter-pinter banget. Sementara peluang
seorang pria eksekutif muda dari sebuah profit company terkemuka di
Jakarta sangatlah kecil, kecuali kalau dia punya track record
extraordinary...hehehe...

Tapiii.... hal ini jangan membuat teman2 di private sector patah
semangat ya... peluang itu tetap ada koq (contohnya teman2 saya yang
memperoleh beasiswa STUNED tahun ini, ada yang berasal dari Indofood,
Merpati airlines, dll), cuma berapa besarnya peluang tersebut, Only
Heaven Knows...hehehe.....(Rick Price, 1992).

3. Cari scheme scholarship yang persyaratannya paling ribet. Kenapa?
Karena makin banyak persyaratan, maka peminat akan makin sedikit,
otomatis peluang kita akan makin besar. Sebagai ilustrasi, Chevening
scholarship tiap tahun kebanjiran beribu-ribu pelamar dari seluruh
pelosok Indonesia karena persyaratannya cuma mengisi 2 lembar formulir
aplikasi dan kirim ke British Council.

That's it! Jika dipukul rata bahwa semua pelamar punya peluang sama,
it means scr statistik tiap pelamar cuma punya peluang kurang dari
0.1%. Tapi, mengacu point 2 diatas, peluang kita-kita yang kerja di
jabotabek, sektor swasta pula, tentu akan semakin kecillllllll
pula......

4. Cari jurusan/program yang akan berguna bagi "hajat hidup orang
banyak". Or lebih konkrit-nya, ambil jurusan yang berbau-bau
Development, Social, Policy, Rural, Public, Environment, Conservation
dan sejenisnya. Sebisa mungkin hindari jurusan yang terlalu spesifik
(tahun lalu saya apply untuk program Biometrics, gak lolos
tuh....hehehe....). Tapi tentunya program yang akan kita ambil tetap
harus relevan dengan background S1 dan atau pekerjaan kita.

5. Banyak-banyak berdoa dan perpanjang tali silaturrahmi (Arief S.
Gusnanto, 2004), sori Rief petuah loe gue quote nehhh.....but spt- nya
banyak benernya, at least for both of us ya
nggak....hehehe.....

OK friends, sekali lagi summary ini hanya berdasarkan pengalaman
pribadi yang tentunya sangat bervariasi dari satu awardees ke awardees
yang lain, semoga bermanfaat, dan......

SELAMAT BERJUANG di ARENA PERBURUAN BEASISWA!!!

Wassalam,
Meilanie Buitenzorgy

Source: milis beasiswa

[+/-] Selengkapnya...

Agus Sari, Beasiswa Fulbright, UC Berkeley

Kalau dana beasiswa yang diterima kurang, apa lebih baik beasiswanya tidak diambil? Atau adakah cara lain untuk menutupi dana yang kurang tersebut?


Nih, pengalaman saya waktu dapat Fulbright dan dananya kurang. Waktu itu, saya keterima di University of California, Berkeley, dan bayarannya kurang $7,000-an per tahun dari apa yang bisa disediakan oleh Fulbright. Walaupun saya juga diterima di beberapa universitas bermerek (so to speak) lainnya, termasuk Cornell (yang waktu itu sebetulnya masih lebih murah dari Berkeley), dan beberapa di antaranya bisa dipenuhi oleh Fulbright, saya tetap ngotot mau masuk ke Program Energy dan Resources di Berkeley (karena memang minat saya ke situ -- bukan karena "Berkeley Mafia, sungguh ...).

OK, jadi, ngotot ...

Lantas, begitu sampai, keluh kesah kurangnya dana ini saya sampaikan ke Profesor saya, dan ajaib, kurangnya itu bisa tertutup oleh "block grant" yang disediakan oleh program saya.

Tetapi, saya termasuk yang beruntung. Beberapa teman dari negara lain menutupi kekurangan ini dengan berbagai cara yang lebih banyak mengeluarkan keringat. Di antaranya, menjadi teaching assistant, research assistant, menjadi konsultan, kerja di tempat lain, menjadi librarian, tukang cuci piring di kantin ...

Lagipula, setelah saya bandingkan, ternyata stipend yang saya dapat dari Fulbright untuk biaya hidup itu sebetulnya generous, lho (mungkin karena saya masih bujangan waktu itu?), jadi bisa nabung sedikit-sedikit untuk nambah uang kuliah.

Kombinasi antara Fulbright dan "sekolah bermerek" adalah sebagai berikut: pertama, saya sepakat bahwa hanya menyebut anda sebagai seorang Fulbrighter saja akan membuka privilege akademis lainnya (termasuk beasiswa tambahan). Kedua, dengan menyebut bahwa anda adalah mahasiswa di sebuah universitas bermerek (misalnya Cornell) akan membuka peluang akademis dan finansial lainnya. Kombinasi keduanya ... bayangkan saja.

Saya dapat beasiswa dari Fulbright hanya untuk Master (tahun pertama dan kedua), tetapi akhirnya saya tinggal lebih lama dan alhamdulillah berhasil menyelesaikan program doktor, dengan beasiswa nyabet dari tempat lain. Ini adalah akibat dari kombinasi itu, saya kira.

Jadi, saran saya ... Tetaplah ngotot, dan pasti ada jalan ... beasiswa dari Fulbright merupakan permulaan yang bagus, tetapi jangan dianggap sebagai satu-satunya jalan.

Selamat bekerja dan berusaha.
sumber: milis beasiswa

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 26 Oktober 2007

Ruhaniyyaat Al-Halaqah

Oleh : Musyaffa' Ahmad Rahim, Lc.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: '. dan tidak ada satu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, dan melakukan kajian terhadapnya diantara sesama mereka, kecuali akan turun kepada mereka sakinah, mereka akan diliputi rahmat, majlis mereka akan dikelilingi para malaikat dan Allah SWT menyebut mereka di tengah orang-orang yang ada di sisi-Nya .'" (Hadits shahîh diriwayatkan oleh Imam Muslim).



Mungkin judul ini terasa aneh. Sebab, biasanya, ruhâniyyât, atau spiritualitas, terkait dengan individu, dan tidak dikaitkan dengan kelompok, group, halaqah, klub pengajian dan semacamnya.

Kesan individualitas spiritual itu bisa jadi karena dua hal, yaitu :
• Adanya doktrin yang menekankan bahwa agama, termasuk di dalamnya masalah spiritualitas, adalah sesuatu yang bersifat private (pribadi).
• Bahwa spiritualitas itu memiliki hubungan erat dengan ibadah, dan ibadah "sudah kadung (terlanjur)" difahami sebagai tanggung jawab pribadi. Wallâhu a'lâm.

Sebenarnya, masalah ruhâniyyât atau spiritualitas, dalam Al-Qur'ân Al-Karîm, sering sekali dibahasakan secara jamâ`î (kolektif), hal ini tampak jelas misalnya dalam surat Al-Fâtihah. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa jama` (plural), misalnya: iyyâka na`budu wa iyyâka nastaîn, ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm (hanya kepada-Mu - ya Allah - kami mengabdi, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus).

Ruhâniyyât halaqah atau dan semacamnya memiliki kedudukan sangat penting, sebab, jika hal ini hilang, maka halaqah atau akan menjadi kering dan kehilangan keberkahannya. Akibat selanjutnya sangat banyak dan beragam, diantaranya adalah hayawiyyah (dinamika), efektifitas dan produktiftas halaqah atau menjadi kerdil atau mandul.

Lalu, seperti apakah ruhâniyyât halaqah ini?

Ada banyak dalil yang menjelaskan hal ini, diantaranya adalah dua hadits nabi Muhammad SAW yang akan kita bahas ini, yaitu:

Pertama:

Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: '. dan tidak ada satu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, dan melakukan kajian terhadapnya diantara sesama mereka, kecuali akan turun kepada mereka sakinah, mereka akan diliputi rahmat, majlis mereka akan dikelilingi para malaikat dan Allah SWT menyebut mereka di tengah orang-orang yang ada di sisi-Nya .'" (Hadits shahîh diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Ruhâniyyât yang harus dipenuhi adalah:
• Sekelompok orang berkumpul (halaqah, klub dan semacamnya)
• Berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid, mushalla, langgar, surau dan semacamnya).
• Tilawah Al-Qur'ân (membaca Al-Qur'ân).
• Melakukan kajian terhadap Al-Qur'ân.

Jika keempat hal ruhâniyyât ini terpenuhi, maka akan membawa dampak (keberkahan) sebagai berikut:
• Sakînah (ketenangan, ketenteraman) akan turun kepada mereka.
• Rahmat Allah SWT akan turun kepada mereka, bahkan menyelimuti dan memenuhi majlis mereka.
• Majlis mereka akan dikelilingi oleh para malaikat.
• Nama-nama mereka akan disebut-sebut di sisi Allah SWT.

Kita perlu introspeksi, adakah selama ini kita merasakan dampak (baca: keberkahan-keberkahan) seperti ini?

Jika ya, alhamdulillâh. Jika tidak, maka kita perlu mengaca diri, adakah empat syarat yang disebutkan oleh hadits nabi di atas ada pada halaqah atau kita?

Kalaulah syarat masjid belum bisa kita penuhi pada setiap liqâât kita, maka, setidaknya, setiap pekan ada majlis ilmu di masjid yang mesti kita hadiri, agar dalam pekan itu, kita mendapatkan keberkahan-keberkahannya. Atau minimal, kita tidak kehilangan tiga (3) syarat lainnya.

Atau, hilangnya dampak (baca: keberkahan) halaqah atau kita disebabkan oleh agenda yang ada dalam setiap liqâât kita, dimana pada agenda-agenda kita tidak ada lagi suasana tilawah (kecuali sekedar pembuka, atau "sambil menunggu" yang belum hadir), tidak ada lagi suasana kajian terhadap kitab Allah?! Dan sudah sudah didominasi oleh suasana lain?! Marilah kita berintrospeksi!

Kedua:

Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abû Umâmah Al-Bâhilî -radhiyallâhu `anhu- ia berkata: Di sisi Rasulullah SAW disebutlah dua orang; salah satunya seorang ahli ibadah, dan seorang lagi seorang `âlim, lalu Rasulullah SAW bersabda: "Kelebihan seorang `âlim atas seorang ahli ibadah adalah seperti kelebihan saya atas orang paling rendah di antara kalian", kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat-Nya, seluruh penghuni langit dan bumi, termasuk semut di dalam lubangnya, dan ikan di lautan, semuanya membacakan shalawat untuk pengajar kebajikan kepada manusia". (H.R. Al-Tirmidzî, dan ia berkata: "Ini adalah hadits hasan gharîb shahîh)[1].

Ruhâniyyât yang harus dipenuhi oleh hadits ini adalah:
• Berilmu (`âlim). Tentunya, yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu-ilmu yang diwariskan Rasulullah SAW, yaitu ilmu al-kitâb (Al-Qur'ân) dan al-hikmah (sunnah Rasulullah SAW), dan tentunya, termasuk segala ilmu yang bersumber kepada dua ilmu warisan Rasulullah SAW.
• Mengajar, sebagaimana peran yang dulu dilakukan Rasulullah SAW.
• Yang diajarkan adalah segala kebajikan, baik kebajikan duniawi, apa lagi ukhrawi.

Dampak (baca: keberkahan) yang terjadi adalah:
• Allah SWT membacakan shalawat untuknya.
• Para malaikat membacakan shalawat untuknya.
• Termasuk seluruh penghuni langit dan bumi.
• Termasuk semut yang ada di dalam lubangnya.
• Termasuk ikan yang ada di dalam lautan.

Jika selama ini kita tidak (belum) merasakan semua keberkahan ini, bisa jadi karena suasana ilmiah tidak terjadi di dalam halaqah kita.

Semoga kita semua segera bisa membenahi suasana halaqah kita, agar segala keberkahannya bisa kita dapatkan, amin.

( YP | PIPPKS-ANZ | www.pks-anz.org )

[+/-] Selengkapnya...

Masalah Khilafiyah

Oleh: Ustadz H. Ahmad Sarwat, Lc.

Kalau kita bicara pada konteks aqidah Islam yang bersifat asasi dan fundamental, maka prinsipnya kebenaran memang hanya ada satu. Pada masalah fiqhiyah yang bersifat qathi'i dan menjadi ijma' para ulama, kebenaran memang hanya ada satu.


Namun ketika kita memasuki wilayah furu' (cabang), kebenaran bisa menjadi banyak, karena pengaruh bias dalil yang ada. Boleh jadi nash atau dalil teks yang digunakan sama, namun cara mengambil kesimpulannya berbeda. Seperti dalam masalah quru', yaitu masa iddah seorang wanita yang ditalak suaminya. Bahkan terkadang ada beberapa nash dalil yang keshahihannya diperselisihkan, seperti masalah shalat tasbih.

Nash Yang Paling Kuat Tidak Selalu Sama Dengan Kebenaran

Mungkin anda heran dan kaget dengan pernyataan di atas. Tetapi ketahuilah bahwa tolok ukur kebenaran bukan semata-mata kekuatan nash. Bukan hanya karena suatu hadits dianggap shahih, lantas apa yang dipahami dari hadits itu adalah pasti kebenaran. Tidak demikian saudaraku.

Sebab boleh jadi suatu hadits itu sudah muttafaqun 'alaihi, tidak ada yang berselisih tentang keshahihannya. Namun tetap saja masih mungkin terjadi beda pendapat dalam menerapkan hadits itu dalam kasus hukum.

Adakah hadits yang lebih shahih dari ayat Al-Quran? Jawabnya pasti tidak ada. Al-Quran adalah hadits yang mutawatir dengan beberapa kelebihan. Tetapi tetap saja ulama berbeda pendapat tentang pengertian hukum dan kesimpulan aplikatif suatu ayat. Dan jumlah ayat ahkam yang diperselisihkan sejumlah ayah ahkam itu sendiri. Padahal semuanya shahih bahkan mutawatir, tetapi tetap saja ada khilaf di dalamnya.

Apalagi mengingat bahwa keshahihan suatu hadits ternyata bukan hal yang qath'i. Buktinya tidak semua hadits dalam shahih bukhari dikatakan shahih oleh Albani. Meski hal itu dikritik oleh para muhaddits lain. Bahkan Albani sendiri sering bersikap mendua ketika menyatakan status hukum suatu hadits. Di dalam satu kitab beliau mengatakan A dan di kitab lain beliau bilang B, untuk satu hadits yang sama.

Apa yang dibilang sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Albani. Misalnya tentang hadits shalat tasbih.

Maka, kebenaran bukan ditentukan oleh semata shahih atau tidaknya suatu nash. Bahkan keshahihan itu adalah semata produk ijtihad manusiawi.

Khilaf Sudah Ada Sejak Masa Nabi SAW

Di masa nabi sendiri, khilaf bukan tidak pernah terjadi. Bahkan khilaf terjadi di depan hidung Rasulullah SAW sendiri. Ingat peristiwa shalat Ashar di perkampungan bani Quraidhah?

Para shahabat terpecah dua, sebagian shalat Ashar di perkampungan Bani Quraidhah, meski telah lewat Maghrib, karena pesan nabi adalah, "Janganlah kalian shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah." Namun sebagian yang lain tidak shalat di sana, tetapi di tengah jalan namun pada waktunya.

Lalu apa komentar nabi, adakah beliau membela salah satu pendapat. Jawabnya tidak. Beliau tidak menyalahkan kelompok mana pun karena keduanya telah melakuka ijtihad dan taat kepada perintah. Hanya saja, ada perbedaan dalam memahami teks sabda beliau. Jadi, khilaf di masa kenabian sudah terjadi dan tetap menjadi khilaf.

Khilaf Perang Badar

Terkadang khilaf bukan terjadi hanya di antara shahabat nabi saja, namun terjadi juga antara nabi SAW dengan para shahabatnya.

Dalam kasus penempatan pasukan perang di medan Badar, terjadi perbedaan pendapat antara Rasulullah SAW dengan seorang shahabat. Menurut shahabat yang ahli perang ini, pendapat Rasulullah SAW yang bukan berdasarkan wahyu kurang tepat. Setelah beliau menjelaskan pikirannya, ternyata Rasulullah SAW kagum atas strategi shahabatnya itu dan bersedia memindahkan posisi pasukan ke tempat yang lebih strategis.

Di sini, nabi SAW bahkan menyerah dan kalah dalam berpendapat dengan seorang shahabatnya. Namun beliau tetap menghargai pendapat itu. Toh, pendapat beliau SAW sendiri tidak berdasarkan wahyu.

Ketika perang nyaris berakhir, muncul keinginan di dalam diri beliau untuk menghentikan peperangan dan menjadikan lawan sebagai tawanan perang. Tindakan itu didasari oleh banyak pertimbangan selain karena saat itu belum ada ketentuan dari langit. Maka nabi SAW bermusyawarah dengan para shahabatnya dan diambil keputusan untuk menawan dan meminta tebusan saja.

Saat itu hanya satu orang yang berbeda pendapat, yaitu Umar bin Al-Khattab ra. Beliau tidak sepakat untuk menghentikan perang dan meminta agar nabi SAW meneruskan perang hingga musuh mati semua. Tidak layak kita menghentikan perang begitu saja karena mengharapkan kekayaan dan kasihan.

Tentu saja pendapat seperti ini tidak diterima forum musyarawah dan Rasulullah SAW serta para shahabat lain tetap pada keputusan semula, hentikan perang.

Tidak lama kemudian turun wahyu yang membuat Rasulullah SAW gemetar ketakutan, karena ayat itu justru membenarkan pendapat Umar ra dan menyalahkan semua pendapat yang ada.

Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Al-Anfal: 68)

Khilaf di Antara Para Nabi

Kalau para shahabat nabi Muhammad SAW sering berbeda pendapat, maka ternyata para nabi pun sering berbeda pendapat.

Lihat bagaimana nabi Musa as berselisih dengan saudaranya, nabi Harun as. Bahkan sampai menarik kepalanya dengan marah dan kecewa.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musa pun melemparkan luh-luh itu dan memegang kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata, "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim"(Q. Al-A'raf: 150)

Konon Musa as kecewa dengan sikap Harus as yang dianggapnya terlalu lemah dan tidak bisa bersikap tegas di hadapan kedegilan kaum mereka, kaum yahudi. Padahal keduanya nabi dan sama-sama dapat wahyu dari Allah SWT. Tetapi urusan berbeda pendapat dan pendekatan, adalah urusan yang bersifat manusiawi. Sangat mungkin ikhtilaf terjadi di kalangan para nabi 'alaihimussalam.

Bukankah kisah Musa as dengan nabi Khidhir as juga demikian? Keduanya selalu berselisih dan beda pendapat dalam perjalanan. Musa as selalu mempertanyakan semua tindakan shahabatnya itu, meski pada akhirnya beliau selalu harus dibuat mengerti. Tetapi intinya, beda pemahaman itu adalah sesuatu yang wajar dan mungkin terjadi, bahkan di kalangan sesama para nabi. Dan tidak ada kebenaran tunggal dalam hal ini.

Para Malaikat Berikhtilaf

Bahkan sesama malaikat yang mulia dan tanpa hawa nafsu sekali pun tetap terjadi beda pendapat.

Masih ingat kisah seorang yang taubat karena telah membunuh 99 dan 1 nyawa?

Dalam perjalanan menuju taubatnya, Allah mencabut nyawanya. Maka berikhtilaflah dua malaikat tentang nasibnya. Malaikat kasih sayang ingin membawanya ke surga lantaran kematiannya didahului dengan taubat nashuha. Namun rekannya yang juga malaikat tetapi job-nya mengurusi orang pendosa ingin membawanya ke neraka, lantaran masih banyak urusan dosa yang belum diselesaikanya terkait dengan hutang nyawa.

Bayangkan, bahkan dua malaikat yang tidak punya kepentingan hewani, tidak punya perasaan, tidak punya kepentingan terpendam, tetap saja ditaqdirkan Allah SWT untuk berbeda pendapat.

Walhasil, ihtilaf itu adalah sesuatu yang melekat pada semua makhluq Allah, danbukan hal yang selalu jelek atau hina. Ikhtilaf di kalangan umat Islam adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin hilang, apalagi di zaman sekarang ini.

Ikhtilaf Yang Diharamkan

Namun ada jenis-jenis ikhtilaf yang diharamkan dan kita wajib menghindari diri dari sifat dan sikap itu.

Pertama, apabila sudah ada nash yang bersifat qath'i dan tidak ada multi tafsir. Bahkan para ulama telah berijma' di dalamnya. Mengingkari ijma' adalah kufur.

Seperti mengatakan bahwa semua agama sama, jelas bukan bagian dari ikhtilaf yang dibenarkan, karena tidak ada satu pun ulama yang membenarkan agama selain Islam.

Kedua, ikhtilaf yang diteruskan dengan kerasa kepala, sombong, takabbur, merasa benar sendiri dan semua orang yang tidak sama pendapatnya dengan dirinya dianggap salah, bodoh, ahli bid'ah, ahli neraka, murtad, keluar dari manhaj salaf, melawan sunnah, bahkan kafir. Naudzu billah min zalik.

Sikap merasa diri paling benar dan paling mendapat hidayah dari Allah adalah sikap seorang yang kurang ilmu dan kurang sifat tawadhu'. Dia merasa hanya dirinya saja yang punya kebenaran, sementara pendapat siapa pun yang dianggapnya bertentangan dengan pendapat dirinya, harus dilukai dengan kata-kata tajam yang merendahkan, menghinakan, melecekan, kalau perlu dengan memboikotnya seolah orang lain itu musuh agama.

Ketiga, ikhtilaf yang tidak pakai ilmu tetapi mengandalkan taqlid dari seseorang tokoh, padahal jauh dari disiplin ilmu yang benar. Berbeda pendapat bahkan berdebat sementara dirinya bukan ahli di bidang itu. Ini tentu kesalahan maha fatal dan kekonyolan maha konyol.

Kalau ada ribuan ahli astronomi sepanjang masa berijma'bahwa pusat edar tata surya adalah matahari dan bumi mengelilinginya, tentu kita lebih percaya. Sementara kalau adaseorangkiyai yang mengatakan bahwa bumi itu rata seperti meja dan pusat edar tata surya adalah bumi dan matahari mengelilingi bumi, boleh jadi bukan ayatnya yang salah, tetapi ilmu pengetahuan si kiyaiitu yang out of date alias ketinggalan zaman.

Setidaknya, si kiyai itu harus mawas diri karena ilmu yang dikuasainya bukan ilmu falak dan bukan astronomi. Beliau tidak punya teropong, tidak punya teleskop, tidak pernah naik wahana luar angkasa, tidak pernah membayangkan sebuah satelit yang mengorbit bumi.

Dan kasus seperti ini, sayangnya, sering terjadi lantaran fanatisme buta dan taqlid bukan pada tempatnya. Kalau kiyai bilang langit itu hijau, maka santrinya akan bilang hijau, walau pun langit itu biru. Maka taqlid tidak karuan kepada kiyai adalah sebuah kesalahan dalam berikhitlaf.

Wallahu a'lam bishshawab

Sumber: Eramuslim




[+/-] Selengkapnya...

Perpustakaan: Sejarah Kemegahan Islam

Oleh: Ustadz H. Ahmad Sarwat, Lc.

Khusus tentang sejarah gemilang umat Islam dalam masalah buku dan perpustakaan, kami punya banyak catatan sejarah. Dan anda bisa pula telurusi di berbagai buku yang ditulis oleh para ulama senior. Salah satu di antaranya buku yang berjudul "Min rawa'ii hadharatina", ditulis oleh Dr. Mustafa As-Siba'i, seorang ulama besar abad ini.



Di dalamnya beliau banyak menulis hal-hal yang akan membuat bangga umat Islam.

Dalam sejarah peradaban kita tercatat bahwa Muhammad bin Abdul Malik az Zayyat memberi 2000 dinar setiap bulan untuk para penerjemah dan penyalin buku. Al-Ma`mun selalu memberi emas kepada Hunain bin Ishaq seberat buku-buku yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Sekarang akan kami paparkan sebagian contoh perpustakaan umum dan perpustakaan khusus yang tersebut dalam sejarah peradaban kita.

a. Perpustakaan Khalifah Dinasti Fatimiyah di Kairo
Perpustakaan yang paling terkenal adalah perpustakaan para khalifah dinasti Fatimiyah di Kairo. Perpustakaan ini sangat menakjubkan karena isinya berupa mushaf-mushaf dan buku-buku yang sangat berharga. Jumlah seluruh buku yang ada di situ mencapai 2.000.000 (dua juta) eksemplar. Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh banyak sejarawan.

b. Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo
Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo didirikan oleh Al-Hakim Biamrillah. Perpustakaan ini mulai dibuka pada tanggal 10 Jumadil Akhir tahun 395 Hijriah, setelah dilengkapi perabotan dan hiasan.

Pada semua pintu dan lorongnya dipasangi tirai. Di situ ditempatkan pula para penanggung jawab, karyawan dan petugas. Di situ dihimpun buku-buku yang belum pernah dihimpun oleh seorang raja pun.

Perpustakaan itu mempunyai 40 lemari. Bahkan ada salah satu lemari yang memuat 18, 000 buku tentang ilmu-ilmu kuno. Semua orang boleh masuk ke situ. Di antara mereka ada yang datang untuk membaca buku, menyalin atau untuk belajar. Di situ terdapat segala yang diperlukan (tinta, pena, kertas dan tempat tinta).

c. Perpustakaan Baitul Hakam di Bagdad
Perputakaan ini didirikan oleh Harun ar Rasyid dan mencapai puncak kebesarannya pada masa Al-Ma`mun. Perpustakaan ini lebih menyerupai sebuah universitas yang di dalamnya terdapat buku-buku.

Orang-orang berkumpul di situ, berdiskusi, muthala`ah dan menyalin buku. Di situ juga terdapat para penyalin dan penerjemah yang menerjemahkan buku-buku yang di peroleh Ar Rasyid dan Al-Ma`mun dalam penaklukan-penaklukan mereka Ankara, Amuria dan Cyprus.

Ibnu Nadim bercerita kapada kita bahwa telah terjadi surat-menyurat (korespondensi) antara Al-Ma`mun dan raja Romawi yang pernah dikalahkannya dalam sebagian peperangan. Salah satu syarat perdamaian yang ditetapkan Al-Ma`mun ialah agar raja Romawi membolehkan buku-buku yang ada di dalam lemari-lemarinya diterjemahkan oleh para ulama yang dikirim Al-Ma`mun, yang kemudian di sepakati dan dilaksanakan. Ini kisah paling agung yang diriwayatkan dalam sejarah mengenai penguasa yang menang perang.

Sang khalifah melihat harga bagi kemenangan itu tidak lebih mahal dari buku-buku ilmu pengetahuan itu tidak lebih mahal dari buku-buku ilmu pengetahuan yang dialihkannya kepada putera-putera umat dan negerinya.

d. Perpustakaan Al-Hakam di Andalus
Perpustakaan ini sangat besar dan luas untuk ukuran di zamannya. Buku yang ada di situ sampai mencapai 400.000 buah. Perpustakaan ini mempunyai katalog-katalog yang sangat teliti dan teratur sehingga sebuah katalog khusus diwan-diwan syi`ir yang ada di perpustakan itu mencapai 44 bagian.

Di perpustakaan ini terdapat pula para penyalin buku yang cakap dan penjilid-penjilid buku yang mahir. Pada masa Al-Hakam terkumpul khazanah-khazanah buku yang belum pernah dimiliki seorangpun baik sebelum maupun sesudahnya.

e. Perpustakaan Bani Ammar di Tripoli
Perpustakaan ini merupakan salah satu lambang keagungan dan kebesaran. Di situ terdapat 180 penyalin yang menyalin buku-buku. Mereka bekerja secara bergiliran siang dan malam supaya penyalinannya tidak terhenti.

Bani Ammar sangat gemar melengkapi perpustakaan dengan buku-buku yang langka dan baru. Mereka mempekerjakan orang-orang pandai dan pedagang-pedagang untuk menjelajah negeri-negeri dan mengumpulkan buku-buku yang berfaedah dari negeri-negeri yang jauh dan dari wilayah-wilayah asing.

Al-Maarri pernah memanfaatkan perpustakaan itu dan menyebutkannya di bagian bukunya. Mengenai jumlah buku yang dikandungnya ada perselisihan pendapat. Namun pendapat yang paling kuat adalah pernyataan bahwa perpustakaan itu memiliki buku sejumlah satu juta.

Perpustakaan Pribadi
Perpustakaan-perpustakaan pribadi terdapat di setiap negeri di kawasan Timur dan Barat dunia Islam. Jarang Anda dapati seorang ulama yang tidak memiliki perpustakaan yang berisi ribuan buku. Perpustakaan-perpustakaan pribadi pada masa peradaban kita dahulu antara lain:

a. Perpustakaan Al-Fath bin Khaqan (terbunuh tahun 247 H)

Al-Fath memiliki perpustakaan yang luas. Dia mengamanatkan pengumpulan buku-bukunya kepada seorang ulama dan sastrawan pilihan pada masanya, yaitu Ali bin Yahya al-Munjim sehingga di perpustakaannya terkumpul buku-buku hikmah yang sama sekali belum pernah terkumpul di perpustakaan hikmah sendiri.

b. Perpustakaan Ibnu Khasyab (Wafat tahun 567 H)

Ibnu Khasyab adalah orang paling alim terhadap nahwu (gramatika Arab). Dia mempunyai pengetahuan luas tentang tafsir hadits, logika (manthiq) dan filsafat. Dia sangat gemar kepada buku hingga mencapai batas tamak. Kegemarannya ini memaksakannya menempuh jalan tak terpuji dalam mengumpulkan buku.

Sampaisampai diriwayatkan jika ia datang ke pasar buku dan ingin membeli sebuah buku, ia merobek sebagian kertasnya ketika orang-orang sedang lalai agar ia bisa mendapatkannya dengan harga murah. Jika ia meminjam buku dari seseorang kemudian orang itu memintanya kembali maka dia berkata, Ada kesangsian antara aku dan buku-buku itu sehingga aku tidak bisa mengembalikannya.

c. Perputakaan Jamaluddin al-Qifthi (Wafat tahun 646 H)

Ia mengumpulkan buku yang tidak bisa digambarkan. Perpustakaannya selalu dituju oleh orang-orang dari berbagai penjuru karena mengharapkan kemurahan dan kedermawanannya. Ia tidak mencintai dunia selain buku-bukunya. Ia mewakafkan dirinya untuk buku-buku. Ia mewasiatkan perpustakaannya yang bernilai lima puluh dinar kepada An Nashir.

d. Perpustakaan Bani Jaradah al-Ulama di Haleb
Salah seorang dari bani itu, Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) menulis dengan khat-nya buku-buku berharga sebanyak tiga lemari. Satu lemari untuk anaknya, Abu Barakat, dan satu lemari untuk anaknya, Abdullah.

e. Perpustakaan Muwaffaq bin Muthran ad Dimasqi (587 H)

Ia mempunyai semangat tinggi untuk mendapatkan buku sehingga tatkala telah meninggal di lemarinya terdapat buku-buku kedokteran dan buku-buku lain sebanyak 10.000 Untuk membantunya, ada tiga orang penyalin yang selalu menuliskan untuknya. Para penyalin itu diberi gaji dan nafkah. Itulah beberapa contoh perpustakaan umum dan perpustakaan pribadi yang pernah memenuhi peradaban kita pada masa silam. Hal ini membuktikan, betapa tingginya kita menjunjung keilmuan.

Petaka yang menimpa Perpustakaan Dunia Islam
Selanjutnya, jika kesukacitaan memenuhi jiwa kita ketika berbicara tentang kemerataan perpustakaan-perpustakaan kita berupa penghancuran dan pembakaran-pembakaran terhadap buku-buku tersebut yang tak dapat dinilai berapa kerugian ilmu yang terkandung untuk selama-lamanya.

Perpustakaan-perpustakaan kita telah ditimpa petak yang memusnahkan jutaan bukunya sehingga dunia kehilangan buku-buku itu untuk selama-lamanya padahal buku-buku itu termasuk peninggalan paling berharga dari pemikiran manusia dalam sejarah.

Petaka itu ditimpahkan oleh tentara Tatar ketika mereka menaklukkan Bagdad. Yang pertama kali dihancurkan sebelum menghancurkan yang lain adalah perpustakaan. Tentara Tatar yang biadab melemparkan semua buku yang mereka dapatkan di perpustakaan-perpustakaan umum ke sungai Dajlah sehingga sungai itu penuh dengan buku-buku. Sampai-sampai seorang penunggang kuda bisa melintas di atasnya dari tepi ke tepi sungai. Air sungai tetap hitam pekat selama berbulan-bulan lantaran bercampur dengan tinta buku-buku yang ditenggelamkan ke situ.

Petaka serangan Salib juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perputakaan paling berharga yang ada di Tripoli, Maarrah, Al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya yang dihancurkan mereka. Salah seorang sejarawan menaksir, buku-buku yang di musnahkan tentara Salib di Tripoli sebanyak tiga juta Buah. Petaka penduduk Spanyol atas Andalus juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perputakaan besar yang diceritakan sejarah dengan mencengangkan. Semua buku di bakar oleh pemeluk-pemeluk agama yang fanatik. Bahkan buku-buku yang dibakar dalam sehari di lapangan Granada menurut taksiran sebagian sejarawan berjumlah satu juta buku.

Petaka-petaka umum itu beralih kepada petaka-petaka akibat fitnah-fintah intern. Perputakaan para khalifah dinasti Fatimiyah berakhir riwayatnya karena di serang oleh masa dari kalangan budak Turki. Mereka menyalakan api di dalam perpustakaan itu dan seorang budak membagi-bagi cover-cover buku, kemudian dijadikan sandal-sandal yang mereka pakai. Sejumlah besar buku mereka lempar ke sungai Nil dan sebagian diangkut ke wilayah-wilayah lain, sedang sisanay diterbangkan angin sehingga menjadi gundukan buku.

Di Haleb (Aleppo)terdapat sebuah perpustakaan yang sangat besar yang disebut Khazanah Sufisme. Ketika terjadi bentrokan karena fitnah antara Sunnah dan Syiah pada hari-hari Asyura, perpustakaan ini di rampas dan isinya dijual dan sisanya dirampas. Petaka paling aneh yang menggelikan adalah yang diperbuat oleh orang-orang dungu terhadap ilmu dan buku. Amir bin Fatik, salah satu amir Mesir di abad ke-5 Hijriah mempunyai sebuah perpustakaan besar. Sebagian besar waktunya dugunakan untuk duduk di situ. Ia mempunyai seorang isteri keturunan bangsawan tetapi dirasuki cemburu terhadap buku-buku tersebut (karena suaminya begitu gemar membaca dan mencintai buku-bukunya).

Ketika Amir bin Fatik wafat maka si isteri beserta pelayan-pelayannya mendatangi perpustakaannya. Ia begitu sakit hati terhadap buku-buku tersebut karena telah melalaikan suaminya dari dirinya. Ia menangisi dan meratapi suaminya sambil melemparkan buku-buku itu ke kolam besar di tengah rumah (dengan dibantu oleh para pelayannya). Begitulah yang di perbuat seorang isteri yang marah karena suaminya mencintai buku. Ia menuntut balas kepada buku-buku itu setelah suaminya wafat.

Di kalangan wanita kita pun ada yang cemburu terhadp buku-buku seperti kecemburuan isteri yang mulia tersebut. Dulu isteri Imam Zuhari ketika melihatnya sedang asyik membaca buku pernah berkata kepadanya, Demi Allah, buku-buku berat atas diriku daripada tiga orang madu! Inilah pembicaraan tentang perpustakaan-perpustakaan kita pada masa-masa peradaban kita berikut kesudahan yang dialaminya. Kini perpustakaan-perputakaan di Eropa telah memelihara sisa-sisa yang tertinggal dari pusaka kita. Di situ banyak tersimpan karangan-karangan berbahasa Arab yang tak didapati padanannya di seluruh dunia Islam saat ini.

Demikian sekelumit gambaran betapa di masa lalu umat Islam berjaya di bidang buku dan perpustakaan. Adalah menjadi tugas kita untuk mengembalikan kejayaan itu dengan mulia mencintai buku.

Wallahu a'lam bishshawab

Sumber: eramuslim


[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 25 Oktober 2007

story from GRIPS

this writing come from mailis double degree student brawijaya university-japan 2007.
i hope this is useful for whoever will study at GRIPS japan....good luck!!

Dear all...
As you've known there are 4 students from Unibraw join in GRIPS
(Should I mention their name? Arif, Any, Joe and me )..
Including us there are 22 Indonesian students (from UI, ITB, UGM and UB).

Having arrived at Narita on October 1, 2007 we were taken to the dormitory..
actually we will be in one dorm (Rikko Kaikan), but coz there's sth so there are
5 females go to Warabi female dorm (this 5 is Any and me and 3 from UGM).
Abt dormitory in Warabi we feel comfort deh coz each of us have bedroom lengkap,
common kitchen, common toire and common bathroom (shower and ofuro/bathup).



Abt transportation:
From warabi to GRIPS campus it takes abt one and half hour..it consists of aruite (jalan kaki
abt 15 min to Warabi station, from this station we take JR abt 30 min to Nishi Nippori st, then
change to Subway to Nogizaka st takes abt 30min too...From Nogizaka st aruite again
abt 10 min...arrive at GRIPS campus deh...(d kawasn Roppongi yg metropolis bgt, Tokyo gtu loh)

Abt Campus:
The first time we came to GRIPS..wow futuristic campus de...sampe rasanya krg PD liat
tu kampus yg kayak mall (bayangpun berbelas2 lantai pake lift sgala), hehe ndeso bgt de...
GRIPS khusus bwt graduate students..so campus seluas and segede gajah itu cm ad 200an students de
(data lengkap mahasiswa apalagi yg ehm...tanya mb ani,..ya kan mbaaak, hehe....)
Mahasiswa tentu saja skrg plg byk dr Ina, trus ad jg malaysia, singapura, thailand, Philipina, Australia,
Jepun itself, negara2 Africa, negara2 eropa timur...dan skali lg data lengkap hubungi mb ani,hihi...
D kampus qta msg2 punya study room and dpinjemi laptop slama setaon! so kmrn sblm qta beli laptop
sendiri qta bs manfaatin tu laptop bwt dbawa k asrama (scara laptop dinas...).Dalam satu study room
ad sktr 30 desk, msg2 dlengkapi fasilitas meja (tentunya), laptop,akses internet (ini neh yg suka menggoda
bwt chat, ya ga mbak Lintang...hehe)
Fasilitas perpus jg top bgt...ohya sjk kul dsini kmi jd bs fotocopy sendiri loh coz qta ad jatah fc and print
d kampus...
Tentang dosen pun asik (trasa bgt kul d LN kayak yg suka dliat d pelem2), and profesor2 tsb very helpful...
alhamdullilah...mulai berkurang ketidakpedean kmi msuk GRIPS...(pengakuan jujur...) apalagi pembimbingnya
mb ani tuh...guanteng kyk pendekar silat plus kipas-nya, hihi..

That's all my story abt GRIPS at a glance...moga bermanfaat bwt calon2 pengikut GRIPS next year...
Prepare yourself and enjoy this new experience next year....
Meminjam kalimat p'Harry Rits...pas BJLT resapilah kursus jepunnya yaw coz bermanfaat bgt bwt
keseharian dsini...(cukup oncret tuh yg jd ikon minggat kursus, ups...)
atu lagee...ga ad cerita living cost telat dsini...

Ganbatte ne...



[+/-] Selengkapnya...

Senin, 22 Oktober 2007

berikut ini adalah kisah-kisah yang ditulis oleh rekan-rekan
mahasiswa double degree brawijaya-jepang dari mailist. semoga cerita ini bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

kisah pertama ini dari tulisannya mas irfan.
______________________________________________________________

Dear all,

Assalaamu`alaikum wr.wb.

Pada kesempatan ini saya ingin mengawali cerita
setelah kedatangan kami di Kyoto,¡¡semoga bermanfaat
buat temen-temen. Tapi sebelumnya saya pengin
mengucapkan:

Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita dapat
menjalani puasa tahun ini di negeri Sakura ini dengan
khusu`, penuh barokah, ridha dan ampunan Allah SWT.
Smoga temen2 smua pada GENKI desu.

Berawal dari bandara S-H Jkt, pasport and okane
dibagi...setelah ceck in sy dapat pengalaman pertama:
Parfume dan odolku kena razia karena vol. lebih dari
100 ml, tapi temen2 yang lain ada yang lolos. So, buat
temen2 yang belum berangkat, taruh smua cairan and gas
lbh dr 100ml dalam tas bagasi. Habis itu terbanglah
kami menuju tokyo, dan nyampe jam 8.50. Dengan bis
kami rombongan Kyoto berpisah di stasiun Tokyo dengan
rombongan Takusoku dan langsung menuju Kyoto dengan
Sinkansen. Sinkansen..??? Ya kereta cepat, bersih..dan
nyaman yang membuat kami tertidur hampir sepanjang
perjalanan. Sekitar jam 2 kami tiba di Stasiun Kyoto
dan langsung menuju Apartemen. Kami dpt sesuatu yang
mengejutkan...??! Apartemen kami per bulan 61.000 \,
tapi fasilitasnya memang lumayan Ok: ada AC, mesin
cuci, meja, bed yang disewa selama kami tinggal. Di
tengah panasnya Kyoto, kami melanjutkan orientasi ke
kampus masih diantar staf Asie SEED. Di kampus kami
diajak ke Koperasi Rits dan langsung didaftar sebagai
anggota dengan membayar uang keanggotaan 1350 \ yang
akan dikembalikan di akhir program. Setelah itu, jam
5.30 kami diajak ke International Office Rits. untuk
mendapat info orientasi kampus. Buka puasa dengan
minum aple jus, jam 6.20 dengan posisi masih di Int.
office..dan kami sudah ditemani senior kami. Setelah
itu kami melanjutkan shalat magrib dengan
senior/Senpai dan berpisah dengan staf Asia
Seed...terus menuju apatonya, dan dilanjut nyari makan
buka. Jam 09.00 kami makan buka di resutoran jepang
dengan budaya batsu2... Tiap orang spend sekitar
1300an \ untuk makan dan minum drink bar. Setelah itu
kami diantar ke apato untuk istirahat.

Besoknya kami diantar staf Asia Seed ke kantor
Kecamatan untuk mandaftar sbg Aline Jin. Karena
kecapaian saya and Hary san pulang ke apato utk
istirahat dan yg lain diajak ke kampus sampai sore..

Selanjutnya kami banyak menghabiskan waktu bersama
senpai yabg sangat membantu, termasuk cari2 komputer
english version yang susah..dan gak ketemu2. Skr Hary
san udah beli duluan, Sony Vaio Type F 150.000\ percis
Japanese Version..dengan sistem iuran gantian.

Yah itu sekelumit dari Kyoto sampai hari ini. Salam
hangat dari kami...and ganbattene..!

Wassalaamu`alaikum wr.wb.

Irfan



[+/-] Selengkapnya...

Percakapan di meja makan

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
Percakapan di meja makan:
- Douzo tabete kudasai : silakan makan
- Tabe nasai : makanlah (diucapkan kepada anak atau yang kedudukannya lebih rendah)
- Douzo omeshi agatte kudasai: silakan makan (diucapkan kepada tamu, kepada orang yang kedudukannya lebih tinggi)
- Isshoni tabemashou : Yuk, (kita) makan sama-sama.
- Itadakimasu : terima kasih (akan saya cicipi)---> diucapkan sebelum makan.
- Sukikirai ga arimasen : tidak pilih-pilih makanan
- Kouhi wa ikaga desuka? : anda mau (minum) kopi?
- (Ocha,) mou ippai ikaga desuka? :mau tambah (teh tawar) lagi? (diucapkan waktu menawarkan minuman mau tambah atau tidak)
- Iie, kekkou desu : terima kasih, saya sudah cukup (diucapkan saat menolak tawaran menambah makanan/minuman).
- Kono ryouri wa oishisou desu ne: masakan ini kelihatannya enak ya.
- Karaimono wa suki desuka? : Anda suka makanan pedas?
- Suki desu : (Ya), Suka
- Amari suki janai : Tidak begitu suka
- Amari suki dewanai: Tidak begitu suka (kalimat ini lebih sopan).
- Tempura ga daisuki desu : (saya) suka sekali tempura (gorengan seafood dan atau sayur)
- (Kono ryouri wa) oishikatta : (masakan ini) enak, terima kasih, (diucapkan setelah selesai makan dan merasa puas).
- Gochisousama deshita : Terima kasih (diucapkan setelah makan).

Soredewa...mata ne, insyaAllah. (Demikianlah/kalau gitu...sampai nanti, insyaAllah).

Dou itashimashite. (sama-sama, balasan ucapan terima kasih).

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,




[+/-] Selengkapnya...

ucapan salam dan ekspresi dalam bahasa jepang

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
para pembaca yang budiman,
Berikut contoh ucapan salam & ekspresi:
- Ohayou gozaimasu (Selamat pagi)
- Konnichiwa (Selamat siang)
- Konbanwa (Selamat malam)
- Oyasumi nasai (Selamat tidur)
- Sayounara (Selamat tinggal atau Selamat jalan)
- Ja, mata ashita (Sampai jumpa besok, ya)
- Arigatou gozaimasu (Terima kasih)
- Doumo arigatou gozaimasu (Terima kasih banyak)
- Dou itashimashite (Sama-sama, Terima kasih kembali)
- Sumimasen (Maaf)
- Sumimasen (Permisi)
- Shitsurei desuga...(Permisi/Maaf...---> diucapkan sebelum bertanya tentang hal pribadi)
- Onegaishimasu (Minta tolong)
- Ogenki desu ka? (Apa kabar?)
- Gomen kudasai ("Permisi", ---> digunakan ketika berkunjung ke rumah orang lain)
- Irasshaimase (Selamat datang ---> diucapkan pada tamu restoran, hotel, dll)
- Irasshai (Selamat datang ---> dipakai pada waktu kedatangan tamu)

tsuzuku...(bersambung)

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,




[+/-] Selengkapnya...

Senin, 15 Oktober 2007

Antara Sabar dan Mengeluh

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
“Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati.”
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, “Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini.”

Abu Hassan bertanya, “Bagaimana hal yang merisaukanmu ?”


Wanita itu menjawab, “Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, “Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?”
Jawab adiknya, “Baiklah kalau begitu ?”
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua.”

Lalu Abul Hassan bertanya, “Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?”
Wanita itu menjawab, “Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka.”
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
” Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya.”

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
” Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.”
Dan sabdanya pula, ” Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka.” (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.


[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 10 Oktober 2007

Ayo Berwirausaha

tulisan ini dari http://www.republika.co.id..

Para pembaca dan peminat kolom Ayo Berwirausaha yth., Jumat lalu saya diundang menjadi seorang nara sumber pada seminar yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Kampus UI, Depok, Jawa Barat dengan tema How to be a Good Entrepreneur. Acara itu berjalan dengan baik karena banyak peserta yang bertanya bagaimana memulai dan mengelola bisnis dengan baik.

Acara tersebut saya jadikan arena sharing (berbagi pengalaman) tentang entrepreneur. Beberapa peserta, walau masih mahasiswa, rupanya sudah mulai pula merintis bisnis. Ada satu kata yang menarik dari acara saling berbagi sore itu. Akan lebih baik lagi jika saya bagi untuk Anda semua, yaitu komitmen dalam berwirausaha. Mengapa komitmen menjadi penting? Ya, karena komitmen merupakan sikap yang sangat dibutuhkan dalam berwirausaha.


Ketika seseorang membuat keputusan untuk memiliki bisnis dan menjadi bos bagi diri sendiri, maka sudah semestinya tugas untuk membuat bisnisnya lancar, menjadi besar, dan menjalankan bisnis dengan baik harus menjadi komitmennya. Komitmen adalah janji, kontrak yang dibuat oleh kita dan untuk kita. Lalu bagaimana komitmen itu bisa muncul pada tiap-tiap diri kita? Pertama, tentu ada motif atau alasan yang kuat mengapa kita memulai bisnis.

Motif yang kuat akan menjadikan komitmen kita juga tebal dan kuat. Nah, bagi yang sudah memiliki bisnis dan merasa mulai kehilangan gairah dalam berwirausaha, ada baiknya melakukan refleksi diri, perenungan kembali, motif apa dulu yang paling kuat memutuskan berbisnis. Ingin merdeka? Menjadi bos? Tidak ingin terikat pada birokrasi? Mengembangkan hobi agar menjadi uang? Cepat kaya? Meneruskan bisnis orang tua? Merasa ingin mendapat pengakuan (recognition)? Ini merupakan sekian banyak dari motif yang muncul.

Memang menjadi wirausahawan yang sukses bukan pekerjaan yang mudah, juga memerlukan waktu yang tidak sebentar. Di sinilah sebetulnya komitmen kita diuji. Biasanya kalau komitmen mulai luntur, menjalankan bisnis pun jadi kehilangan semangat. Bahkan bisa jadi ketika komitmen hilang maka bisnis kita jadi ikut hilang. Dari teman-teman yang berbagi sore itu, juga menekankan pentingnya komitmen. Apalagi jika bisnis yang kita bangun adalah bisnis kolektif, artinya dimodali oleh beberapa orang.

Untuk kasus ini bisa jadi lebih sulit karena harus dibangun komitmen bersama. Tetapi di sisi lain, jika orang-orang yang bergabung di dalam bisnis memiliki komitmen yang sama, visi dan misi yang satu, bisnis pun bisa melejit dengan cepat. Salah satu peserta juga bercerita bagaimana ia membangun bisnis bersama dengan teman-temannya. Ada cerita sukses terhadap bisnisnya, ada juga cerita kegagalan dalam mengambil sebuah proyek. Saat ini, ia bercerita, terpaksa perusahaannya nonaktif alias tidak ada kegiatan karena beberapa rekannya mundur dari bisnis bersama itu.

Namun, yang ia ingatkan adalah bahwa komitmennya untuk memiliki bisnis tetap ada. Itulah alasannya ia datang ke seminar ini. Karena komitmen bisa timbul tenggelam, seperti teman kita tadi, maka kita harus bisa menjaganya. Selain dengan refleksi diri dan perenungan tadi, kita juga bisa meningkatkan komitmen kita dengan banyak belajar dari pengalaman orang lain dan lewat segala informasi yang ada, baik lewat buku maupun media elektronik.

Membaca dan belajar dari pengalaman orang lain juga merupakan pelajaran yang berharga. Kita menjadi tahu bagaimana mereka jatuh bangun membangun bisnis, bagaimana mereka mampu menyiasati kesulitan yang mereka hadapi, bagaimana rasanya mereka merasakan kegagalan, dan sejumlah cerita pahit yang mereka alami dalam berbisnis. Cerita pahit ini tentu akan menjadikan cermin buat kita untuk belajar dan mampu mengantisipasi jika kita menghadapi masalah yang sama. Mudah-mudahan sih tidak terjadi pada kita.

Dari mereka yang sukses tentu kita bisa belajar bagaimana mereka meraihnya, strategi apa yang mereka terapkan, bagaimana cara mereka menjual produk, atau jasanya, taktik apa saja yang mereka terapkan dalam menjalankan bisnis. Kisah-kisah sukses ini bisa kita jadikan contoh dan teladan, dan bisa kita terapkan dalam bisnis kita. Pokoknya (kalau memakai ilmu pokoknya) setiap entrepreneur harus mau belajar dan selalu meningkatkan kemampuan dirinya.

Sekarang, setelah berbagi dengan teman-teman, membaca sekian banyak cerita dan kisah kesuksesan dan kegagalan rekan entrepreneur yang lain, mari kita tarik napas dalam-dalam. Mari kita lihat bisnis kita yang telah ada sekarang. Mungkin kan bisa sukses seperti mereka? Mampu juga kita mengatasi segala masalah yang muncul di bisnis kita? Kalau kita memiliki komitmen yang kuat, semuanya jadi akan terasa lebih mudah. Bukan begitu? Ada satu kalimat yang masih saya ingat waktu jaman kuliah, tiada kata jera dalam perjuangan. Mari kita berjuang memperbaiki taraf hidup kita!

Diasuh oleh Ir Sri Bramantoro Abdinagoro, MM Konsultan dan penulis buku Road to be Own Boss dan 25 Langkah Menjalankan Bisnis e-mail: wirausaha@republika.co.id faksimile: 021-7983623 alamat surat:Ayo Berwirausaha, Suplemen Probis, HU Republika, Jl Warung Buncit Raya No 37, Jakarta 12510


[+/-] Selengkapnya...

Ada Tetes setelah Tetes Terakhir

Kisah ini diambil dari blog wirausahawan.blogspot.com, menurutku kisah ini baik sekali. Bisa memberi semangat dikala rasa putus asa hampir melanda diri kita.semoga bisa diambil hikmahnya....selamat membaca!
_________________________________________________________________________________
Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat. Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir. ‘Hingga tetes terakhir’, pikirnya.
Manusia kuat lalu menantang para penonton, "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!"


Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh diatas meja panggung. Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, ribuan orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana anda bisa melakukan hal itu?"

"Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku. Jika kau memiliki tanggungan beban seperti itu, kau harus kuat mencari uang meski hanya serupiah-dua rupiah. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang ada bukanlah hal yang sulit bagiku".

Selalu ada tetes setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkatNya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada yang menyayangiku.

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu"

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 04 Oktober 2007

Catatan Perjalanan : Dongeng dari Jepang

Tulisan ini saya kutip dari blognya :Mas Yuli Setyo Indartono , Beliau mahasiswa Mahasiswa S3 di Graduate School of Science and Technology, Kobe University, Japan.(makasih ya Mas...ssemoga bermanfaat buat yang lain)

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.

Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada “semut” yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam “semut-semut” yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para “semut” tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari “RT, RW, Kelurahan” dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.

Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan “fasilitas” diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip “the biggest (service) for the small” yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.

Pameo “kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah” tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma “Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja”. Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.

Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan “daijobu” (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada “pemaksaan” untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat “sepele”; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena “keriangan” anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut “daijobu yo” (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi computer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.

Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula
polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.

Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat “tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan” mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.

Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahunn sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami
selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi – apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya.

Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya. ____________ _________ _________ _________ _________
_________ _________ _________
Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School
of Science and Technology, Kobe University, Japan.
Peneliti Istecs dan Ketua Teknologi Energi INDENI
www.indeni.org. E-mail: indartono@yahoo. com


[+/-] Selengkapnya...