Oleh: Ustadz H. Ahmad Sarwat, Lc.
Kalau kita bicara pada konteks aqidah Islam yang bersifat asasi dan fundamental, maka prinsipnya kebenaran memang hanya ada satu. Pada masalah fiqhiyah yang bersifat qathi'i dan menjadi ijma' para ulama, kebenaran memang hanya ada satu.
Namun ketika kita memasuki wilayah furu' (cabang), kebenaran bisa menjadi banyak, karena pengaruh bias dalil yang ada. Boleh jadi nash atau dalil teks yang digunakan sama, namun cara mengambil kesimpulannya berbeda. Seperti dalam masalah quru', yaitu masa iddah seorang wanita yang ditalak suaminya. Bahkan terkadang ada beberapa nash dalil yang keshahihannya diperselisihkan, seperti masalah shalat tasbih.
Nash Yang Paling Kuat Tidak Selalu Sama Dengan Kebenaran
Mungkin anda heran dan kaget dengan pernyataan di atas. Tetapi ketahuilah bahwa tolok ukur kebenaran bukan semata-mata kekuatan nash. Bukan hanya karena suatu hadits dianggap shahih, lantas apa yang dipahami dari hadits itu adalah pasti kebenaran. Tidak demikian saudaraku.
Sebab boleh jadi suatu hadits itu sudah muttafaqun 'alaihi, tidak ada yang berselisih tentang keshahihannya. Namun tetap saja masih mungkin terjadi beda pendapat dalam menerapkan hadits itu dalam kasus hukum.
Adakah hadits yang lebih shahih dari ayat Al-Quran? Jawabnya pasti tidak ada. Al-Quran adalah hadits yang mutawatir dengan beberapa kelebihan. Tetapi tetap saja ulama berbeda pendapat tentang pengertian hukum dan kesimpulan aplikatif suatu ayat. Dan jumlah ayat ahkam yang diperselisihkan sejumlah ayah ahkam itu sendiri. Padahal semuanya shahih bahkan mutawatir, tetapi tetap saja ada khilaf di dalamnya.
Apalagi mengingat bahwa keshahihan suatu hadits ternyata bukan hal yang qath'i. Buktinya tidak semua hadits dalam shahih bukhari dikatakan shahih oleh Albani. Meski hal itu dikritik oleh para muhaddits lain. Bahkan Albani sendiri sering bersikap mendua ketika menyatakan status hukum suatu hadits. Di dalam satu kitab beliau mengatakan A dan di kitab lain beliau bilang B, untuk satu hadits yang sama.
Apa yang dibilang sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Albani. Misalnya tentang hadits shalat tasbih.
Maka, kebenaran bukan ditentukan oleh semata shahih atau tidaknya suatu nash. Bahkan keshahihan itu adalah semata produk ijtihad manusiawi.
Khilaf Sudah Ada Sejak Masa Nabi SAW
Di masa nabi sendiri, khilaf bukan tidak pernah terjadi. Bahkan khilaf terjadi di depan hidung Rasulullah SAW sendiri. Ingat peristiwa shalat Ashar di perkampungan bani Quraidhah?
Para shahabat terpecah dua, sebagian shalat Ashar di perkampungan Bani Quraidhah, meski telah lewat Maghrib, karena pesan nabi adalah, "Janganlah kalian shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah." Namun sebagian yang lain tidak shalat di sana, tetapi di tengah jalan namun pada waktunya.
Lalu apa komentar nabi, adakah beliau membela salah satu pendapat. Jawabnya tidak. Beliau tidak menyalahkan kelompok mana pun karena keduanya telah melakuka ijtihad dan taat kepada perintah. Hanya saja, ada perbedaan dalam memahami teks sabda beliau. Jadi, khilaf di masa kenabian sudah terjadi dan tetap menjadi khilaf.
Khilaf Perang Badar
Terkadang khilaf bukan terjadi hanya di antara shahabat nabi saja, namun terjadi juga antara nabi SAW dengan para shahabatnya.
Dalam kasus penempatan pasukan perang di medan Badar, terjadi perbedaan pendapat antara Rasulullah SAW dengan seorang shahabat. Menurut shahabat yang ahli perang ini, pendapat Rasulullah SAW yang bukan berdasarkan wahyu kurang tepat. Setelah beliau menjelaskan pikirannya, ternyata Rasulullah SAW kagum atas strategi shahabatnya itu dan bersedia memindahkan posisi pasukan ke tempat yang lebih strategis.
Di sini, nabi SAW bahkan menyerah dan kalah dalam berpendapat dengan seorang shahabatnya. Namun beliau tetap menghargai pendapat itu. Toh, pendapat beliau SAW sendiri tidak berdasarkan wahyu.
Ketika perang nyaris berakhir, muncul keinginan di dalam diri beliau untuk menghentikan peperangan dan menjadikan lawan sebagai tawanan perang. Tindakan itu didasari oleh banyak pertimbangan selain karena saat itu belum ada ketentuan dari langit. Maka nabi SAW bermusyawarah dengan para shahabatnya dan diambil keputusan untuk menawan dan meminta tebusan saja.
Saat itu hanya satu orang yang berbeda pendapat, yaitu Umar bin Al-Khattab ra. Beliau tidak sepakat untuk menghentikan perang dan meminta agar nabi SAW meneruskan perang hingga musuh mati semua. Tidak layak kita menghentikan perang begitu saja karena mengharapkan kekayaan dan kasihan.
Tentu saja pendapat seperti ini tidak diterima forum musyarawah dan Rasulullah SAW serta para shahabat lain tetap pada keputusan semula, hentikan perang.
Tidak lama kemudian turun wahyu yang membuat Rasulullah SAW gemetar ketakutan, karena ayat itu justru membenarkan pendapat Umar ra dan menyalahkan semua pendapat yang ada.
Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Al-Anfal: 68)
Khilaf di Antara Para Nabi
Kalau para shahabat nabi Muhammad SAW sering berbeda pendapat, maka ternyata para nabi pun sering berbeda pendapat.
Lihat bagaimana nabi Musa as berselisih dengan saudaranya, nabi Harun as. Bahkan sampai menarik kepalanya dengan marah dan kecewa.
Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musa pun melemparkan luh-luh itu dan memegang kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata, "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim"(Q. Al-A'raf: 150)
Konon Musa as kecewa dengan sikap Harus as yang dianggapnya terlalu lemah dan tidak bisa bersikap tegas di hadapan kedegilan kaum mereka, kaum yahudi. Padahal keduanya nabi dan sama-sama dapat wahyu dari Allah SWT. Tetapi urusan berbeda pendapat dan pendekatan, adalah urusan yang bersifat manusiawi. Sangat mungkin ikhtilaf terjadi di kalangan para nabi 'alaihimussalam.
Bukankah kisah Musa as dengan nabi Khidhir as juga demikian? Keduanya selalu berselisih dan beda pendapat dalam perjalanan. Musa as selalu mempertanyakan semua tindakan shahabatnya itu, meski pada akhirnya beliau selalu harus dibuat mengerti. Tetapi intinya, beda pemahaman itu adalah sesuatu yang wajar dan mungkin terjadi, bahkan di kalangan sesama para nabi. Dan tidak ada kebenaran tunggal dalam hal ini.
Para Malaikat Berikhtilaf
Bahkan sesama malaikat yang mulia dan tanpa hawa nafsu sekali pun tetap terjadi beda pendapat.
Masih ingat kisah seorang yang taubat karena telah membunuh 99 dan 1 nyawa?
Dalam perjalanan menuju taubatnya, Allah mencabut nyawanya. Maka berikhtilaflah dua malaikat tentang nasibnya. Malaikat kasih sayang ingin membawanya ke surga lantaran kematiannya didahului dengan taubat nashuha. Namun rekannya yang juga malaikat tetapi job-nya mengurusi orang pendosa ingin membawanya ke neraka, lantaran masih banyak urusan dosa yang belum diselesaikanya terkait dengan hutang nyawa.
Bayangkan, bahkan dua malaikat yang tidak punya kepentingan hewani, tidak punya perasaan, tidak punya kepentingan terpendam, tetap saja ditaqdirkan Allah SWT untuk berbeda pendapat.
Walhasil, ihtilaf itu adalah sesuatu yang melekat pada semua makhluq Allah, danbukan hal yang selalu jelek atau hina. Ikhtilaf di kalangan umat Islam adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin hilang, apalagi di zaman sekarang ini.
Ikhtilaf Yang Diharamkan
Namun ada jenis-jenis ikhtilaf yang diharamkan dan kita wajib menghindari diri dari sifat dan sikap itu.
Pertama, apabila sudah ada nash yang bersifat qath'i dan tidak ada multi tafsir. Bahkan para ulama telah berijma' di dalamnya. Mengingkari ijma' adalah kufur.
Seperti mengatakan bahwa semua agama sama, jelas bukan bagian dari ikhtilaf yang dibenarkan, karena tidak ada satu pun ulama yang membenarkan agama selain Islam.
Kedua, ikhtilaf yang diteruskan dengan kerasa kepala, sombong, takabbur, merasa benar sendiri dan semua orang yang tidak sama pendapatnya dengan dirinya dianggap salah, bodoh, ahli bid'ah, ahli neraka, murtad, keluar dari manhaj salaf, melawan sunnah, bahkan kafir. Naudzu billah min zalik.
Sikap merasa diri paling benar dan paling mendapat hidayah dari Allah adalah sikap seorang yang kurang ilmu dan kurang sifat tawadhu'. Dia merasa hanya dirinya saja yang punya kebenaran, sementara pendapat siapa pun yang dianggapnya bertentangan dengan pendapat dirinya, harus dilukai dengan kata-kata tajam yang merendahkan, menghinakan, melecekan, kalau perlu dengan memboikotnya seolah orang lain itu musuh agama.
Ketiga, ikhtilaf yang tidak pakai ilmu tetapi mengandalkan taqlid dari seseorang tokoh, padahal jauh dari disiplin ilmu yang benar. Berbeda pendapat bahkan berdebat sementara dirinya bukan ahli di bidang itu. Ini tentu kesalahan maha fatal dan kekonyolan maha konyol.
Kalau ada ribuan ahli astronomi sepanjang masa berijma'bahwa pusat edar tata surya adalah matahari dan bumi mengelilinginya, tentu kita lebih percaya. Sementara kalau adaseorangkiyai yang mengatakan bahwa bumi itu rata seperti meja dan pusat edar tata surya adalah bumi dan matahari mengelilingi bumi, boleh jadi bukan ayatnya yang salah, tetapi ilmu pengetahuan si kiyaiitu yang out of date alias ketinggalan zaman.
Setidaknya, si kiyai itu harus mawas diri karena ilmu yang dikuasainya bukan ilmu falak dan bukan astronomi. Beliau tidak punya teropong, tidak punya teleskop, tidak pernah naik wahana luar angkasa, tidak pernah membayangkan sebuah satelit yang mengorbit bumi.
Dan kasus seperti ini, sayangnya, sering terjadi lantaran fanatisme buta dan taqlid bukan pada tempatnya. Kalau kiyai bilang langit itu hijau, maka santrinya akan bilang hijau, walau pun langit itu biru. Maka taqlid tidak karuan kepada kiyai adalah sebuah kesalahan dalam berikhitlaf.
Wallahu a'lam bishshawab
Sumber: Eramuslim
Jumat, 26 Oktober 2007
Masalah Khilafiyah
Diposting oleh
ABU UKASYAH
di
18.49
0
komentar
Label: materi tarbiyah
Perpustakaan: Sejarah Kemegahan Islam
Oleh: Ustadz H. Ahmad Sarwat, Lc.
Khusus tentang sejarah gemilang umat Islam dalam masalah buku dan perpustakaan, kami punya banyak catatan sejarah. Dan anda bisa pula telurusi di berbagai buku yang ditulis oleh para ulama senior. Salah satu di antaranya buku yang berjudul "Min rawa'ii hadharatina", ditulis oleh Dr. Mustafa As-Siba'i, seorang ulama besar abad ini.
Di dalamnya beliau banyak menulis hal-hal yang akan membuat bangga umat Islam.
Dalam sejarah peradaban kita tercatat bahwa Muhammad bin Abdul Malik az Zayyat memberi 2000 dinar setiap bulan untuk para penerjemah dan penyalin buku. Al-Ma`mun selalu memberi emas kepada Hunain bin Ishaq seberat buku-buku yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab.
Sekarang akan kami paparkan sebagian contoh perpustakaan umum dan perpustakaan khusus yang tersebut dalam sejarah peradaban kita.
a. Perpustakaan Khalifah Dinasti Fatimiyah di Kairo
Perpustakaan yang paling terkenal adalah perpustakaan para khalifah dinasti Fatimiyah di Kairo. Perpustakaan ini sangat menakjubkan karena isinya berupa mushaf-mushaf dan buku-buku yang sangat berharga. Jumlah seluruh buku yang ada di situ mencapai 2.000.000 (dua juta) eksemplar. Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh banyak sejarawan.
b. Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo
Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo didirikan oleh Al-Hakim Biamrillah. Perpustakaan ini mulai dibuka pada tanggal 10 Jumadil Akhir tahun 395 Hijriah, setelah dilengkapi perabotan dan hiasan.
Pada semua pintu dan lorongnya dipasangi tirai. Di situ ditempatkan pula para penanggung jawab, karyawan dan petugas. Di situ dihimpun buku-buku yang belum pernah dihimpun oleh seorang raja pun.
Perpustakaan itu mempunyai 40 lemari. Bahkan ada salah satu lemari yang memuat 18, 000 buku tentang ilmu-ilmu kuno. Semua orang boleh masuk ke situ. Di antara mereka ada yang datang untuk membaca buku, menyalin atau untuk belajar. Di situ terdapat segala yang diperlukan (tinta, pena, kertas dan tempat tinta).
c. Perpustakaan Baitul Hakam di Bagdad
Perputakaan ini didirikan oleh Harun ar Rasyid dan mencapai puncak kebesarannya pada masa Al-Ma`mun. Perpustakaan ini lebih menyerupai sebuah universitas yang di dalamnya terdapat buku-buku.
Orang-orang berkumpul di situ, berdiskusi, muthala`ah dan menyalin buku. Di situ juga terdapat para penyalin dan penerjemah yang menerjemahkan buku-buku yang di peroleh Ar Rasyid dan Al-Ma`mun dalam penaklukan-penaklukan mereka Ankara, Amuria dan Cyprus.
Ibnu Nadim bercerita kapada kita bahwa telah terjadi surat-menyurat (korespondensi) antara Al-Ma`mun dan raja Romawi yang pernah dikalahkannya dalam sebagian peperangan. Salah satu syarat perdamaian yang ditetapkan Al-Ma`mun ialah agar raja Romawi membolehkan buku-buku yang ada di dalam lemari-lemarinya diterjemahkan oleh para ulama yang dikirim Al-Ma`mun, yang kemudian di sepakati dan dilaksanakan. Ini kisah paling agung yang diriwayatkan dalam sejarah mengenai penguasa yang menang perang.
Sang khalifah melihat harga bagi kemenangan itu tidak lebih mahal dari buku-buku ilmu pengetahuan itu tidak lebih mahal dari buku-buku ilmu pengetahuan yang dialihkannya kepada putera-putera umat dan negerinya.
d. Perpustakaan Al-Hakam di Andalus
Perpustakaan ini sangat besar dan luas untuk ukuran di zamannya. Buku yang ada di situ sampai mencapai 400.000 buah. Perpustakaan ini mempunyai katalog-katalog yang sangat teliti dan teratur sehingga sebuah katalog khusus diwan-diwan syi`ir yang ada di perpustakan itu mencapai 44 bagian.
Di perpustakaan ini terdapat pula para penyalin buku yang cakap dan penjilid-penjilid buku yang mahir. Pada masa Al-Hakam terkumpul khazanah-khazanah buku yang belum pernah dimiliki seorangpun baik sebelum maupun sesudahnya.
e. Perpustakaan Bani Ammar di Tripoli
Perpustakaan ini merupakan salah satu lambang keagungan dan kebesaran. Di situ terdapat 180 penyalin yang menyalin buku-buku. Mereka bekerja secara bergiliran siang dan malam supaya penyalinannya tidak terhenti.
Bani Ammar sangat gemar melengkapi perpustakaan dengan buku-buku yang langka dan baru. Mereka mempekerjakan orang-orang pandai dan pedagang-pedagang untuk menjelajah negeri-negeri dan mengumpulkan buku-buku yang berfaedah dari negeri-negeri yang jauh dan dari wilayah-wilayah asing.
Al-Maarri pernah memanfaatkan perpustakaan itu dan menyebutkannya di bagian bukunya. Mengenai jumlah buku yang dikandungnya ada perselisihan pendapat. Namun pendapat yang paling kuat adalah pernyataan bahwa perpustakaan itu memiliki buku sejumlah satu juta.
Perpustakaan Pribadi
Perpustakaan-perpustakaan pribadi terdapat di setiap negeri di kawasan Timur dan Barat dunia Islam. Jarang Anda dapati seorang ulama yang tidak memiliki perpustakaan yang berisi ribuan buku. Perpustakaan-perpustakaan pribadi pada masa peradaban kita dahulu antara lain:
a. Perpustakaan Al-Fath bin Khaqan (terbunuh tahun 247 H)
Al-Fath memiliki perpustakaan yang luas. Dia mengamanatkan pengumpulan buku-bukunya kepada seorang ulama dan sastrawan pilihan pada masanya, yaitu Ali bin Yahya al-Munjim sehingga di perpustakaannya terkumpul buku-buku hikmah yang sama sekali belum pernah terkumpul di perpustakaan hikmah sendiri.
b. Perpustakaan Ibnu Khasyab (Wafat tahun 567 H)
Ibnu Khasyab adalah orang paling alim terhadap nahwu (gramatika Arab). Dia mempunyai pengetahuan luas tentang tafsir hadits, logika (manthiq) dan filsafat. Dia sangat gemar kepada buku hingga mencapai batas tamak. Kegemarannya ini memaksakannya menempuh jalan tak terpuji dalam mengumpulkan buku.
Sampaisampai diriwayatkan jika ia datang ke pasar buku dan ingin membeli sebuah buku, ia merobek sebagian kertasnya ketika orang-orang sedang lalai agar ia bisa mendapatkannya dengan harga murah. Jika ia meminjam buku dari seseorang kemudian orang itu memintanya kembali maka dia berkata, Ada kesangsian antara aku dan buku-buku itu sehingga aku tidak bisa mengembalikannya.
c. Perputakaan Jamaluddin al-Qifthi (Wafat tahun 646 H)
Ia mengumpulkan buku yang tidak bisa digambarkan. Perpustakaannya selalu dituju oleh orang-orang dari berbagai penjuru karena mengharapkan kemurahan dan kedermawanannya. Ia tidak mencintai dunia selain buku-bukunya. Ia mewakafkan dirinya untuk buku-buku. Ia mewasiatkan perpustakaannya yang bernilai lima puluh dinar kepada An Nashir.
d. Perpustakaan Bani Jaradah al-Ulama di Haleb
Salah seorang dari bani itu, Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) menulis dengan khat-nya buku-buku berharga sebanyak tiga lemari. Satu lemari untuk anaknya, Abu Barakat, dan satu lemari untuk anaknya, Abdullah.
e. Perpustakaan Muwaffaq bin Muthran ad Dimasqi (587 H)
Ia mempunyai semangat tinggi untuk mendapatkan buku sehingga tatkala telah meninggal di lemarinya terdapat buku-buku kedokteran dan buku-buku lain sebanyak 10.000 Untuk membantunya, ada tiga orang penyalin yang selalu menuliskan untuknya. Para penyalin itu diberi gaji dan nafkah. Itulah beberapa contoh perpustakaan umum dan perpustakaan pribadi yang pernah memenuhi peradaban kita pada masa silam. Hal ini membuktikan, betapa tingginya kita menjunjung keilmuan.
Petaka yang menimpa Perpustakaan Dunia Islam
Selanjutnya, jika kesukacitaan memenuhi jiwa kita ketika berbicara tentang kemerataan perpustakaan-perpustakaan kita berupa penghancuran dan pembakaran-pembakaran terhadap buku-buku tersebut yang tak dapat dinilai berapa kerugian ilmu yang terkandung untuk selama-lamanya.
Perpustakaan-perpustakaan kita telah ditimpa petak yang memusnahkan jutaan bukunya sehingga dunia kehilangan buku-buku itu untuk selama-lamanya padahal buku-buku itu termasuk peninggalan paling berharga dari pemikiran manusia dalam sejarah.
Petaka itu ditimpahkan oleh tentara Tatar ketika mereka menaklukkan Bagdad. Yang pertama kali dihancurkan sebelum menghancurkan yang lain adalah perpustakaan. Tentara Tatar yang biadab melemparkan semua buku yang mereka dapatkan di perpustakaan-perpustakaan umum ke sungai Dajlah sehingga sungai itu penuh dengan buku-buku. Sampai-sampai seorang penunggang kuda bisa melintas di atasnya dari tepi ke tepi sungai. Air sungai tetap hitam pekat selama berbulan-bulan lantaran bercampur dengan tinta buku-buku yang ditenggelamkan ke situ.
Petaka serangan Salib juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perputakaan paling berharga yang ada di Tripoli, Maarrah, Al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya yang dihancurkan mereka. Salah seorang sejarawan menaksir, buku-buku yang di musnahkan tentara Salib di Tripoli sebanyak tiga juta Buah. Petaka penduduk Spanyol atas Andalus juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perputakaan besar yang diceritakan sejarah dengan mencengangkan. Semua buku di bakar oleh pemeluk-pemeluk agama yang fanatik. Bahkan buku-buku yang dibakar dalam sehari di lapangan Granada menurut taksiran sebagian sejarawan berjumlah satu juta buku.
Petaka-petaka umum itu beralih kepada petaka-petaka akibat fitnah-fintah intern. Perputakaan para khalifah dinasti Fatimiyah berakhir riwayatnya karena di serang oleh masa dari kalangan budak Turki. Mereka menyalakan api di dalam perpustakaan itu dan seorang budak membagi-bagi cover-cover buku, kemudian dijadikan sandal-sandal yang mereka pakai. Sejumlah besar buku mereka lempar ke sungai Nil dan sebagian diangkut ke wilayah-wilayah lain, sedang sisanay diterbangkan angin sehingga menjadi gundukan buku.
Di Haleb (Aleppo)terdapat sebuah perpustakaan yang sangat besar yang disebut Khazanah Sufisme. Ketika terjadi bentrokan karena fitnah antara Sunnah dan Syiah pada hari-hari Asyura, perpustakaan ini di rampas dan isinya dijual dan sisanya dirampas. Petaka paling aneh yang menggelikan adalah yang diperbuat oleh orang-orang dungu terhadap ilmu dan buku. Amir bin Fatik, salah satu amir Mesir di abad ke-5 Hijriah mempunyai sebuah perpustakaan besar. Sebagian besar waktunya dugunakan untuk duduk di situ. Ia mempunyai seorang isteri keturunan bangsawan tetapi dirasuki cemburu terhadap buku-buku tersebut (karena suaminya begitu gemar membaca dan mencintai buku-bukunya).
Ketika Amir bin Fatik wafat maka si isteri beserta pelayan-pelayannya mendatangi perpustakaannya. Ia begitu sakit hati terhadap buku-buku tersebut karena telah melalaikan suaminya dari dirinya. Ia menangisi dan meratapi suaminya sambil melemparkan buku-buku itu ke kolam besar di tengah rumah (dengan dibantu oleh para pelayannya). Begitulah yang di perbuat seorang isteri yang marah karena suaminya mencintai buku. Ia menuntut balas kepada buku-buku itu setelah suaminya wafat.
Di kalangan wanita kita pun ada yang cemburu terhadp buku-buku seperti kecemburuan isteri yang mulia tersebut. Dulu isteri Imam Zuhari ketika melihatnya sedang asyik membaca buku pernah berkata kepadanya, Demi Allah, buku-buku berat atas diriku daripada tiga orang madu! Inilah pembicaraan tentang perpustakaan-perpustakaan kita pada masa-masa peradaban kita berikut kesudahan yang dialaminya. Kini perpustakaan-perputakaan di Eropa telah memelihara sisa-sisa yang tertinggal dari pusaka kita. Di situ banyak tersimpan karangan-karangan berbahasa Arab yang tak didapati padanannya di seluruh dunia Islam saat ini.
Demikian sekelumit gambaran betapa di masa lalu umat Islam berjaya di bidang buku dan perpustakaan. Adalah menjadi tugas kita untuk mengembalikan kejayaan itu dengan mulia mencintai buku.
Wallahu a'lam bishshawab
Sumber: eramuslim
Diposting oleh
ABU UKASYAH
di
18.45
0
komentar
Label: materi tarbiyah
Kamis, 25 Oktober 2007
story from GRIPS
this writing come from mailis double degree student brawijaya university-japan 2007.
i hope this is useful for whoever will study at GRIPS japan....good luck!!
Dear all...
As you've known there are 4 students from Unibraw join in GRIPS
(Should I mention their name? Arif, Any, Joe and me )..
Including us there are 22 Indonesian students (from UI, ITB, UGM and UB).
Having arrived at Narita on October 1, 2007 we were taken to the dormitory..
actually we will be in one dorm (Rikko Kaikan), but coz there's sth so there are
5 females go to Warabi female dorm (this 5 is Any and me and 3 from UGM).
Abt dormitory in Warabi we feel comfort deh coz each of us have bedroom lengkap,
common kitchen, common toire and common bathroom (shower and ofuro/bathup).
Abt transportation:
From warabi to GRIPS campus it takes abt one and half hour..it consists of aruite (jalan kaki
abt 15 min to Warabi station, from this station we take JR abt 30 min to Nishi Nippori st, then
change to Subway to Nogizaka st takes abt 30min too...From Nogizaka st aruite again
abt 10 min...arrive at GRIPS campus deh...(d kawasn Roppongi yg metropolis bgt, Tokyo gtu loh)
Abt Campus:
The first time we came to GRIPS..wow futuristic campus de...sampe rasanya krg PD liat
tu kampus yg kayak mall (bayangpun berbelas2 lantai pake lift sgala), hehe ndeso bgt de...
GRIPS khusus bwt graduate students..so campus seluas and segede gajah itu cm ad 200an students de
(data lengkap mahasiswa apalagi yg ehm...tanya mb ani,..ya kan mbaaak, hehe....)
Mahasiswa tentu saja skrg plg byk dr Ina, trus ad jg malaysia, singapura, thailand, Philipina, Australia,
Jepun itself, negara2 Africa, negara2 eropa timur...dan skali lg data lengkap hubungi mb ani,hihi...
D kampus qta msg2 punya study room and dpinjemi laptop slama setaon! so kmrn sblm qta beli laptop
sendiri qta bs manfaatin tu laptop bwt dbawa k asrama (scara laptop dinas...).Dalam satu study room
ad sktr 30 desk, msg2 dlengkapi fasilitas meja (tentunya), laptop,akses internet (ini neh yg suka menggoda
bwt chat, ya ga mbak Lintang...hehe)
Fasilitas perpus jg top bgt...ohya sjk kul dsini kmi jd bs fotocopy sendiri loh coz qta ad jatah fc and print
d kampus...
Tentang dosen pun asik (trasa bgt kul d LN kayak yg suka dliat d pelem2), and profesor2 tsb very helpful...
alhamdullilah...mulai berkurang ketidakpedean kmi msuk GRIPS...(pengakuan jujur...) apalagi pembimbingnya
mb ani tuh...guanteng kyk pendekar silat plus kipas-nya, hihi..
That's all my story abt GRIPS at a glance...moga bermanfaat bwt calon2 pengikut GRIPS next year...
Prepare yourself and enjoy this new experience next year....
Meminjam kalimat p'Harry Rits...pas BJLT resapilah kursus jepunnya yaw coz bermanfaat bgt bwt
keseharian dsini...(cukup oncret tuh yg jd ikon minggat kursus, ups...)
atu lagee...ga ad cerita living cost telat dsini...
Ganbatte ne...
Diposting oleh
ABU UKASYAH
di
23.06
0
komentar
Senin, 22 Oktober 2007
berikut ini adalah kisah-kisah yang ditulis oleh rekan-rekan
mahasiswa double degree brawijaya-jepang dari mailist. semoga cerita ini bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
kisah pertama ini dari tulisannya mas irfan.
______________________________________________________________
Dear all,
Assalaamu`alaikum wr.wb.
Pada kesempatan ini saya ingin mengawali cerita
setelah kedatangan kami di Kyoto,¡¡semoga bermanfaat
buat temen-temen. Tapi sebelumnya saya pengin
mengucapkan:
Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita dapat
menjalani puasa tahun ini di negeri Sakura ini dengan
khusu`, penuh barokah, ridha dan ampunan Allah SWT.
Smoga temen2 smua pada GENKI desu.
Berawal dari bandara S-H Jkt, pasport and okane
dibagi...setelah ceck in sy dapat pengalaman pertama:
Parfume dan odolku kena razia karena vol. lebih dari
100 ml, tapi temen2 yang lain ada yang lolos. So, buat
temen2 yang belum berangkat, taruh smua cairan and gas
lbh dr 100ml dalam tas bagasi. Habis itu terbanglah
kami menuju tokyo, dan nyampe jam 8.50. Dengan bis
kami rombongan Kyoto berpisah di stasiun Tokyo dengan
rombongan Takusoku dan langsung menuju Kyoto dengan
Sinkansen. Sinkansen..??? Ya kereta cepat, bersih..dan
nyaman yang membuat kami tertidur hampir sepanjang
perjalanan. Sekitar jam 2 kami tiba di Stasiun Kyoto
dan langsung menuju Apartemen. Kami dpt sesuatu yang
mengejutkan...??! Apartemen kami per bulan 61.000 \,
tapi fasilitasnya memang lumayan Ok: ada AC, mesin
cuci, meja, bed yang disewa selama kami tinggal. Di
tengah panasnya Kyoto, kami melanjutkan orientasi ke
kampus masih diantar staf Asie SEED. Di kampus kami
diajak ke Koperasi Rits dan langsung didaftar sebagai
anggota dengan membayar uang keanggotaan 1350 \ yang
akan dikembalikan di akhir program. Setelah itu, jam
5.30 kami diajak ke International Office Rits. untuk
mendapat info orientasi kampus. Buka puasa dengan
minum aple jus, jam 6.20 dengan posisi masih di Int.
office..dan kami sudah ditemani senior kami. Setelah
itu kami melanjutkan shalat magrib dengan
senior/Senpai dan berpisah dengan staf Asia
Seed...terus menuju apatonya, dan dilanjut nyari makan
buka. Jam 09.00 kami makan buka di resutoran jepang
dengan budaya batsu2... Tiap orang spend sekitar
1300an \ untuk makan dan minum drink bar. Setelah itu
kami diantar ke apato untuk istirahat.
Besoknya kami diantar staf Asia Seed ke kantor
Kecamatan untuk mandaftar sbg Aline Jin. Karena
kecapaian saya and Hary san pulang ke apato utk
istirahat dan yg lain diajak ke kampus sampai sore..
Selanjutnya kami banyak menghabiskan waktu bersama
senpai yabg sangat membantu, termasuk cari2 komputer
english version yang susah..dan gak ketemu2. Skr Hary
san udah beli duluan, Sony Vaio Type F 150.000\ percis
Japanese Version..dengan sistem iuran gantian.
Yah itu sekelumit dari Kyoto sampai hari ini. Salam
hangat dari kami...and ganbattene..!
Wassalaamu`alaikum wr.wb.
Irfan
Diposting oleh
ABU UKASYAH
di
12.34
0
komentar
Percakapan di meja makan
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
Percakapan di meja makan:
- Douzo tabete kudasai : silakan makan
- Tabe nasai : makanlah (diucapkan kepada anak atau yang kedudukannya lebih rendah)
- Douzo omeshi agatte kudasai: silakan makan (diucapkan kepada tamu, kepada orang yang kedudukannya lebih tinggi)
- Isshoni tabemashou : Yuk, (kita) makan sama-sama.
- Itadakimasu : terima kasih (akan saya cicipi)---> diucapkan sebelum makan.
- Sukikirai ga arimasen : tidak pilih-pilih makanan
- Kouhi wa ikaga desuka? : anda mau (minum) kopi?
- (Ocha,) mou ippai ikaga desuka? :mau tambah (teh tawar) lagi? (diucapkan waktu menawarkan minuman mau tambah atau tidak)
- Iie, kekkou desu : terima kasih, saya sudah cukup (diucapkan saat menolak tawaran menambah makanan/minuman).
- Kono ryouri wa oishisou desu ne: masakan ini kelihatannya enak ya.
- Karaimono wa suki desuka? : Anda suka makanan pedas?
- Suki desu : (Ya), Suka
- Amari suki janai : Tidak begitu suka
- Amari suki dewanai: Tidak begitu suka (kalimat ini lebih sopan).
- Tempura ga daisuki desu : (saya) suka sekali tempura (gorengan seafood dan atau sayur)
- (Kono ryouri wa) oishikatta : (masakan ini) enak, terima kasih, (diucapkan setelah selesai makan dan merasa puas).
- Gochisousama deshita : Terima kasih (diucapkan setelah makan).
Soredewa...mata ne, insyaAllah. (Demikianlah/kalau gitu...sampai nanti, insyaAllah).
Dou itashimashite. (sama-sama, balasan ucapan terima kasih).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Diposting oleh
ABU UKASYAH
di
04.56
0
komentar
Label: belajar bahasa jepang
ucapan salam dan ekspresi dalam bahasa jepang
Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
para pembaca yang budiman,
Berikut contoh ucapan salam & ekspresi:
- Ohayou gozaimasu (Selamat pagi)
- Konnichiwa (Selamat siang)
- Konbanwa (Selamat malam)
- Oyasumi nasai (Selamat tidur)
- Sayounara (Selamat tinggal atau Selamat jalan)
- Ja, mata ashita (Sampai jumpa besok, ya)
- Arigatou gozaimasu (Terima kasih)
- Doumo arigatou gozaimasu (Terima kasih banyak)
- Dou itashimashite (Sama-sama, Terima kasih kembali)
- Sumimasen (Maaf)
- Sumimasen (Permisi)
- Shitsurei desuga...(Permisi/Maaf...---> diucapkan sebelum bertanya tentang hal pribadi)
- Onegaishimasu (Minta tolong)
- Ogenki desu ka? (Apa kabar?)
- Gomen kudasai ("Permisi", ---> digunakan ketika berkunjung ke rumah orang lain)
- Irasshaimase (Selamat datang ---> diucapkan pada tamu restoran, hotel, dll)
- Irasshai (Selamat datang ---> dipakai pada waktu kedatangan tamu)
tsuzuku...(bersambung)
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Diposting oleh
ABU UKASYAH
di
04.37
0
komentar
Label: belajar bahasa jepang
Senin, 15 Oktober 2007
Antara Sabar dan Mengeluh
Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
“Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati.”
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, “Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini.”
Abu Hassan bertanya, “Bagaimana hal yang merisaukanmu ?”
Wanita itu menjawab, “Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, “Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?”
Jawab adiknya, “Baiklah kalau begitu ?”
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua.”
Lalu Abul Hassan bertanya, “Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?”
Wanita itu menjawab, “Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka.”
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
” Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya.”
Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
” Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.”
Dan sabdanya pula, ” Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka.” (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.
Diposting oleh
ABU UKASYAH
di
20.39
0
komentar
Label: kisah hikmah
